Entri Populer

Jumat, 01 Juli 2011

Iman

1. Iman, Islam, ihsan dan kewajiban beriman kepada takdir
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Iman itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan salat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadan. Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membaca firman Allah Taala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Panggillah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka. (Shahih Muslim No.10)
2. Salat lima waktu adalah salah satu rukun Islam
· Hadis riwayat Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Seseorang dari penduduk Najed yang kusut rambutnya datang menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Kami mendengar gaung suaranya, tetapi kami tidak paham apa yang dikatakannya sampai ia mendekati Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan bertanya tentang Islam. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: (Islam itu adalah) salat lima kali dalam sehari semalam. Orang itu bertanya: Adakah salat lain yang wajib atasku? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Tidak ada, kecuali jika engkau ingin melakukan salat sunat. Kemudian Rasulullah bersabda: (Islam itu juga) puasa pada bulan Ramadan. Orang itu bertanya: Adakah puasa lain yang wajib atasku? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Tidak, kecuali jika engkau ingin melakukan puasa sunat. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. melanjutkan: (Islam itu juga) zakat fitrah. Orang itu pun bertanya: Adakah zakat lain yang wajib atasku? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Tidak, kecuali jika engkau ingin bersedekah. Kemudian lelaki itu berlalu seraya berkata: Demi Allah, aku tidak akan menambahkan kewajiban ini dan tidak akan menguranginya. Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ia orang yang beruntung jika benar apa yang diucapkannya. (Shahih Muslim No.12)
3. Pertanyaan tentang rukun Islam
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Kami dilarang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tentang sesuatu. Yang mengherankan kami bahwa seorang badui yang beradab mengajukan pertanyaan kepada beliau dan kami mendengarkan. Suatu hari datang seorang badui, lalu berkata: Wahai Muhammad, utusanmu telah datang kepada kami, ia mengatakan bahwa engkau menyatakan bahwa Allah telah mengutusmu. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Benar. Orang itu bertanya: Kalau begitu, siapakah yang menciptakan langit? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Allah. Orang itu bertanya: Siapakah yang menciptakan bumi? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Allah. Orang itu bertanya: Siapakah yang menegakkan gunung-gunung ini dan menjadikan sebagaimana adanya? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Allah. Orang itu berkata: Demi Zat yang telah menciptakan langit, menciptakan bumi dan menegakkan gunung bahwa Allah-lah yang mengutusmu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Ya. Orang itu berkata: Utusanmu mengatakan bahwa kami wajib mengerjakan salat lima waktu dalam sehari semalam. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Benar. Orang itu berkata: Demi Zat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Benar. Orang itu berkata: Utusanmu mengatakan, bahwa kami wajib mengeluarkan zakat harta kami. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Benar. Orang itu bertanya: Demi Zat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Ya. Orang itu berkata: Utusanmu juga mengatakan bahwa kami diwajibkan puasa pada bulan Ramadan. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Benar. Orang itu bertanya: Demi Zat yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Ya. Orang itu berkata: Utusanmu mengatakan pula bahwa kami wajib menunaikan ibadah haji ke Baitullah, jika mampu. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Benar. Kemudian orang itu pergi, seraya berkata: Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak akan menambahkan atau mengurangi semua apa yang telah engkau terangkan. Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya jika benar apa yang diucapkan, ia akan masuk surga. (Shahih Muslim No.13)
4. Iman menyebabkan masuk surga dan barang siapa menjalankan apa yang diperintahkan, niscaya ia akan masuk surga
· Hadis riwayat Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu’anhu: Bahwa Seorang badui menawarkan diri kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dalam perjalanan untuk memegang tali kekang unta beliau. Kemudian orang itu berkata: Wahai Rasulullah atau Ya Muhammad, beritahukan kepadaku apa yang dapat mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka. Nabi Shallallahu alaihi wassalam. tidak segera menjawab. Beliau memandang para sahabat, seraya bersabda: Ia benar-benar mendapat petunjuk. Kemudian beliau bertanya kepada orang tersebut: Apa yang engkau tanyakan? Orang itu pun mengulangi perkataannya. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Engkau beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan salat, menunaikan zakat dan menyambung tali persaudaraan. Sekarang, tinggalkanlah unta itu. (Shahih Muslim No.14)
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa seorang badui datang menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. lalu berkata: Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang apabila aku lakukan, aku akan masuk surga. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Engkau beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan salat fardu, membayar zakat dan puasa Ramadan. Orang itu berkata: Demi Zat yang menguasai diriku, aku tidak akan menambah sedikit pun dan tidak akan menguranginya. Ketika orang itu pergi, Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa yang senang melihat seorang ahli surga, maka lihatlah orang ini. (Shahih Muslim No.16)
5. Rukun Islam dan pilar-pilarnya
· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Islam dibangun di atas lima perkara, mengesakan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, puasa Ramadan dan menunaikan haji. (Shahih Muslim No.19)
6. Perintah beriman kepada Allah dan rasul-Nya, hukum-hukum agama, seruan, bertanya, memeliharanya dan menyampaikannya kepada orang lain
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rombongan utusan Abdul Qais datang menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. lalu berkata: Wahai Rasulullah, kami berasal dari dusun Rabiah. Antara kami dan engkau, terhalang oleh orang kafir Bani Mudhar. Karena itu, kami tidak dapat datang kepadamu kecuali pada bulan-bulan Haram (yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab). Karena itu, perintahkanlah kami dengan sesuatu yang dapat kami kerjakan dan kami serukan kepada orang-orang di belakang kami. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Aku memerintahkan kepada kalian empat hal dan melarang kalian dari empat hal. (Perintah itu ialah) beriman kepada Allah kemudian beliau menerangkannya. Beliau bersabda: Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, membayar zakat dan memberikan seperlima harta rampasan perang kalian. Dan aku melarang kalian dari arak dubba’ (arak yang disimpan dalam batok), arak hantam (arak yang disimpan dalam kendi yang terbuat dari tanah, rambut dan darah), arak naqier (arak yang disimpan dalam kendi terbuat dari batang pohon) dan arak muqayyar (arak yang disimpan dalam potongan tanduk). (Shahih Muslim No.23)
7. Ajakan kepada dua kalimat syahadat dan syariat-syariat Islam
· Hadis riwayat Muaz Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengutusku, beliau bersabda: Engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Karena itu, ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Jika mereka taat, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Kalau mereka taat, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka membayar zakat, yang diambil dari orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang miskin di antara mereka. Jika mereka taat, maka waspadalah terhadap harta pilihan mereka. Dan takutlah engkau dari doa orang yang dizalimi, karena doa itu tidak ada sekat dengan Allah Taala. (Shahih Muslim No.27)
8. Perintah memerangi manusia hingga mereka mengucap “laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah”, mendirikan salat, mengeluarkan zakat dan beriman kepada semua yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. siapa melakukan semua itu, maka akan terpelihara diri dan hartanya kecuali dengan alasan yang benar, memerangi orang yang enggan mengeluarkan zakat atau enggan menunaikan hak-hak Islam yang lain dan kepedulian imam terhadap syiar-syiar Islam
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. wafat dan kekhalifahan digantikan oleh Abu Bakar, sebagian masyarakat Arab kembali kepada kekufuran. (Ketika Abu Bakar ingin memerangi mereka), Umar bin Khathab berkata kepada Abu Bakar: Kenapa engkau memerangi manusia (orang-orang murtad), bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. telah bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan: Laa ilaaha illallah. Barang siapa telah mengucapkan: Laa ilaaha illallah berarti harta dan dirinya terlindung dariku, kecuali dengan sebab syara, sedangkan perhitungannya terserah pada Allah. Abu Bakar menanggapi: Demi Allah, aku akan perangi orang yang membedakan antara salat dan zakat. Karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka enggan memberikan zakat binatang ternak kepadaku yang sebelumnya mereka bayar kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., niscaya aku akan perangi mereka karena tidak membayar zakat binatang ternak. (Shahih Muslim No.29)
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan: Laa ilaaha illallah, barang siapa telah mengucapkan: Laa ilaaha illallah, maka harta dan dirinya terlindung dariku, kecuali dengan sebab syara, sedangkan perhitungannya (terserah) pada Allah. (Shahih Muslim No.30)
· Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. adalah utusan Allah, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat. Barang siapa melaksanakannya berarti ia telah melindungi diri dan hartanya dariku kecuali dengan sebab syara, sedang perhitungannya (terserah) pada Allah Taala. (Shahih Muslim No.33)
9. Dalil keabsahan Islam seseorang menjelang kematian, asal belum sekarat, membatalkan dibolehkannya istigfar untuk orang-orang musyrik dan dalil bahwa orang yang mati dalam keadaan musyrik termasuk penghuni neraka jahim, tak dapat dibebaskan dengan perantaraan apa pun
· Hadis riwayat Musayyab bin Hazn Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika Abu Thalib menjelang kematian, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. datang menemuinya. Ternyata di sana sudah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Mughirah. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. berkata: Wahai pamanku, ucapkanlah: Laa ilaaha illallah, ucapan yang dapat kujadikan saksi terhadapmu di sisi Allah. Tetapi Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata: Hai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. terus-menerus menawarkan kalimat tersebut dan mengulang-ulang ucapan itu kepada Abu Thalib, sampai ia mengatakan ucapan terakhir kepada mereka, bahwa ia tetap pada agama Abdul Muthalib dan tidak mau mengucapkan: Laa ilaaha illallah. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sungguh, demi Allah, aku pasti akan memintakan ampunan buatmu, selama aku tidak dilarang melakukan hal itu untukmu. Kemudian Allah Taala menurunkan firman-Nya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat mereka, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahim. Dan mengenai Abu Thalib, Allah Taala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Shahih Muslim No.35)
10. Dalil yang menunjukkan bahwa orang yang mati dalam keadaan menetapi tauhid, niscaya akan masuk surga
· Hadis riwayat Ubadah bin Shamit Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa mengucapkan: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan bersaksi bahwa Nabi Isa as. adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya, serta kalimat-Nya yang dibacakan kepada Maryam dan dengan tiupan roh-Nya, bahwa surga itu benar dan bahwa neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya melalui pintu dari delapan pintu surga mana saja yang ia inginkan. (Shahih Muslim No.41)
· Hadis riwayat Muaz bin Jabal Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku pernah membonceng Nabi Shallallahu alaihi wassalam, yang memisahkan antara aku dan beliau hanyalah bagian belakang pelana. Beliau bersabda: Hai Muaz bin Jabal. Aku menyahut: Ya, Wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Kemudian berjalan sejenak, kemudian beliau bersabda lagi: Hai Muaz bin Jabal. Aku menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Kemudian berjalan sejenak, kemudian beliau kembali memanggil: Hai Muaz bin Jabal. Aku pun menyahut: Wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Beliau bersabda: Tahukah engkau, apa hak Allah atas para hamba? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda: Hak Allah atas para hamba, yaitu mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Setelah berjalan sesaat, beliau memanggil lagi: Hai Muaz bin Jabal Aku menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bertanya: Tahukah engkau apa hak hamba atas Allah, bila mereka telah memenuhi hak Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Allah tidak akan menyiksa mereka. (Shahih Muslim No.43)
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan Muaz bin Jabal berboncengan di atas tunggangan. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Hai Muaz. Muaz menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. memanggil lagi: Hai Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Sekali lagi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. memanggil: Hai Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Setiap hamba yang bersaksi bahwa: Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka Allah mengharamkan api neraka atasnya. Muaz berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada orang banyak agar mereka merasa senang? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Kalau engkau kabarkan, mereka akan menjadikannya sebagai andalan. (Shahih Muslim No.47)
· Hadis riwayat Itban bin Malik Radhiyallahu’anhu: Dari Mahmud bin Rabi` ia berkata: Aku datang ke Madinah dan bertemu Itban. Dan aku berkata: Aku mendengar cerita tentang engkau. Itban berkata: Mataku terkena suatu penyakit. Lalu aku menyuruh orang menghadap Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. untuk mengatakan kepada beliau bahwa aku ingin engkau (Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.) datang dan mengerjakan salat di rumahku, sehingga aku dapat menjadikannya sebagai mushalla. Nabi pun datang bersama beberapa orang sahabat beliau. Beliau masuk dan mengerjakan salat di rumahku. Sementara itu para sahabat saling berbincang di antara mereka. Mereka umumnya sedang membicarakan Malik bin Dukhsyum (artinya, mereka membicarakan sikap orang-orang munafik yang buruk, di antaranya Malik). Mereka ingin Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. berdoa agar Malik mendapat celaka. Mereka ingin ia tertimpa malapetaka. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. selesai salat, beliau bertanya: Bukankah ia bersaksi: Bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah? Para sahabat menjawab: Memang benar ia mengucapkan itu, tetapi itu tidak ada dalam hatinya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seseorang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, tidak akan masuk neraka atau dimakan api neraka. (Shahih Muslim No.4 8)
11. Menerangkan jumlah cabang iman, yang paling tinggi dan yang paling rendah, keutamaan malu dan bahwa malu termasuk iman
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman. (Shahih Muslim No.50)
· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. mendengar seseorang menasehati saudaranya dalam hal malu, lalu Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Malu adalah bagian dari iman. (Shahih Muslim No.52)
· Hadis riwayat Imran bin Husaini Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda: Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan. (Shahih Muslim No.53)
12. Menerangkan keutamaan Islam dan ajarannya yang paling utama
· Hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Islam manakah yang paling baik? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Memberikan makanan, mengucap salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal. (Shahih Muslim No.56)
· Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam: Orang Islam manakah yang paling baik? Rasulullah menjawab: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (Shahih Muslim No.57)
· Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (Shahih Muslim No.59)
13. Menerangkan sikap-sikap yang mendatangkan manisnya iman
· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, mencintai orang lain hanya karena Allah, tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka. (Shahih Muslim No.60)
14. Wajib lebih mencintai rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dari keluarga, anak, orang-tua dan semua manusia, serta memastikan bahwa seseorang yang tidak memiliki cinta semacam ini berarti tidak ada iman dalam dirinya
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seorang hamba (dalam hadis Abdul Warits, seorang laki-laki) tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang. (Shahih Muslim No.62)
15. Dalil sebagian dari iman adalah cinta seseorang kepada sesama muslim seperti ia mencintai dirinya sendiri
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Salah satu di antara kalian tidak beriman sebelum ia mencintai saudaranya (atau beliau bersabda: tetangganya) seperti mencintai diri sendiri. (Shahih Muslim No.64)
16. Sunat memuliakan tetangga dan tamu, berdiam diri kecuali untuk kebaikan, menerangkan bahwa semua itu termasuk iman
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. (Shahih Muslim No.67)
· Hadis riwayat Abu Syuraikh Al-Khuza’i Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (Shahih Muslim No.69)
17. Mencegah kemungkaran itu termasuk iman, bahwa iman dapat bertambah atau berkurang, bahwa memerintahkan yang makruf (kebaikan) dan melarang kemungkaran itu wajib
· Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu: Dari Thariq bin Syihab Radhiyallahu’anhu ia berkata: Orang yang pertama berkhutbah pada hari raya sebelum salat Ied adalah Marwan. Ada seseorang yang berdiri mengatakan: Salat Ied itu sebelum khutbah. Marwan menjawab: Telah ditinggalkan apa yang ada di sana. Abu Said berkata: Orang ini benar-benar telah melaksanakan kewajibannya. Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran (hal yang keji, buruk), maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. (Shahih Muslim No.70)
18. Kelebihan orang beriman dan keunggulan penduduk Yaman
· Hadis riwayat Abu Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. pernah memberi isyarat dengan tangan ke arah Yaman, seraya bersabda: Ingatlah, sesungguhnya iman ada di sana, sedangkan kekerasan dan kekasaran hati ada pada orang-orang yang bersuara keras di dekat pangkal ekor unta ketika muncul sepasang tanduk setan, yaitu pada golongan Rabiah dan Bani Mudhar. (Shahih Muslim No.72)
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Penduduk Yaman datang. Mereka lebih halus hatinya. Iman ada pada orang Yaman, fikih ada pada orang Yaman dan Hikmah ada pada orang Yaman. (Shahih Muslim No.73)
19. Menjelaskan bahwa agama adalah nasehat
· Hadis riwayat Jarir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. untuk selalu mendirikan salat, memberikan zakat dan memberi nasehat baik kepada setiap muslim. (Shahih Muslim No.83)
20. Menerangkan kurangnya iman sebab maksiat dan kekosongan iman pelakunya
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri ketika mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman. (Shahih Muslim No.86)
21. Menjelaskan tanda-tanda munafik
· Hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda: Ada empat sifat yang bila dimiliki maka pemiliknya adalah munafik murni. Dan barang siapa yang memiliki salah satu di antara empat tersebut, itu berarti ia telah menyimpan satu tabiat munafik sampai ia tinggalkan. Apabila berbicara ia berbohong, apabila bersepakat ia berkhianat, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila bertikai ia berbuat curang. (Shahih Muslim No.8 8)
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ada tiga tanda orang munafik; apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila dipercaya ia berkhianat. (Shahih Muslim No.89)
22. Menerangkan keadaan iman seseorang yang mengatakan kepada sesama muslim: Hai, kafir!
· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). (Shahih Muslim No.91)
23. Menjelaskan iman orang yang membenci ayahnya, padahal ia tahu bahwa orang tersebut adalah ayah kandungnya
· Hadis riwayat Abu Zar Radhiyallahu’anhu: Bahwa Ia mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Setiap orang yang mengaku keturunan dari selain ayahnya sendiri, padahal ia mengetahuinya, pastilah ia kafir (artinya mengingkari nikmat dan kebaikan, tidak memenuhi hak Allah dan hak ayahnya). Barang siapa yang mengakui sesuatu bukan miliknya, maka ia tidak termasuk golongan kami dan hendaknya ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata kafir atau mengatakan musuh Allah, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya. (Shahih Muslim No.93)
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barang siapa yang membenci ayahnya berarti ia kafir. (Shahih Muslim No.94)
· Hadis riwayat Saad bin Abu Waqqash Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Kedua telingaku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa yang mengakui seseorang dalam Islam sebagai ayah, sedangkan ia tahu bahwa itu bukan ayahnya, maka diharamkan baginya surga. (Shahih Muslim No.95)
24. Menjelaskan sabda Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bahwa mencaci-maki orang Islam adalah fasik dan memeranginya adalah kafir
· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Mencaci-maki orang Islam adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekafiran. (Shahih Muslim No.97)
25. Menjelaskan makna sabda Nabi Shallallahu alaihi wassalam.: Janganlah kalian kembali menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian membunuh sebagian yang lain
· Hadis riwayat Jarir Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika haji wada, Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda kepadaku: Suruhlah orang-orang diam. Setelah orang-orang diam, beliau bersabda: Janganlah sesudah kutinggalkan, kalian kembali menjadi orang-orang kafir, di mana sebagian membunuh sebagian yang lain. (Shahih Muslim No.9 8)
26. Menerangkan kekafiran orang yang mengatakan: Kita diberi hujan oleh bintang tertentu
· Hadis riwayat Zaid bin Khalid Al-Juhaini Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. melakukan salat bersama kami di Hudaibiyah, sesudah hujan turun semalam. Seusai salat, beliau mendatangi para sahabatnya, lalu bersabda: Tahukah kalian apa yang telah difirmankan Tuhan kalian? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda: Allah berfirman: Di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir di pagi ini. Orang yang berkata: Kita diturunkan hujan karena anugerah dan rahmat Allah, maka orang itu beriman kepada-Ku dan mengingkari bintang-bintang. Sebaliknya orang yang berkata: Kita diturunkan hujan oleh bintang ini atau bintang itu, maka orang tersebut kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang-bintang. (Shahih Muslim No.104)
27. Dalil yang menunjukkan bahwa mencintai sahabat Ansar termasuk iman dan tanda-tandanya, sedangkan membenci mereka termasuk tanda kemunafikan
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Ansar dan tanda keimanan adalah mencintai sahabat Ansar. (Shahih Muslim No.10 8)
· Hadis riwayat Barra’ Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda tentang kaum Ansar: Yang mencintai mereka hanyalah orang yang beriman dan yang membenci mereka hanyalah orang munafik. Barang siapa yang mencintai mereka, maka Allah mencintainya. Dan Barang siapa yang membenci mereka, maka Allah membencinya. (Shahih Muslim No.110)
28. Menjelaskan berkurangnya iman disebabkan oleh kurang taat dan menjelaskan ucapan kata kufur dengan arti bukan kufur kepada Allah, seperti kufur kepada nikmat dan hak
· Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu: Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. beliau bersabda: Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istigfar (memohon ampun). Karena aku melihat kalian lebih banyak menjadi penghuni neraka. Seorang wanita yang cerdik di antara mereka bertanya: Wahai Rasulullah, kenapa kaum wanita yang lebih banyak menjadi penghuni neraka? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Kalian banyak mengutuk dan mengingkari kebaikan suami. Aku tidak melihat kurangnya akal dan agama yang lebih menguasai manusia dari kalian. Wanita itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah kekurangan akal dan agama itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Yang dimaksud dengan kurang pada akal adalah karena dua orang saksi wanita sama dengan seorang saksi laki-laki. Ini adalah kekurangan akal. Wanita menghabisi waktu malamnya tanpa mengerjakan salat dan tidak puasa di bulan Ramadan (karena haid), ini adalah kekurangan pada agama. (Shahih Muslim No.114)
29. Menerangkan bahwa iman kepada Allah Taala merupakan amal paling utama
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah ditanya: Apakah amal yang paling utama? Beliau menjawab Iman kepada Allah. Orang bertanya lagi: Kemudian apa? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab:Berjuang di jalan Allah. Kembali ia bertanya: Kemudian apa? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Haji mabrur (haji yang diterima). (Shahih Muslim No.11 8)
· Hadis riwayat Abu Zar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.: Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya. Aku bertanya: Budak manakah yang paling utama? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Yang paling baik menurut pemiliknya dan paling tinggi harganya. Aku tanya lagi: Bagaimana jika aku tidak bekerja? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Engkau dapat membantu orang yang bekerja atau bekerja untuk orang yang tidak memiliki pekerjaan. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tidak mampu melakukan sebagian amal. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Engkau dapat mengekang kejahatanmu terhadap orang lain. Karena, hal itu merupakan sedekah darimu kepada dirimu. (Shahih Muslim No.119)
· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.: Pekerjaan manakah yang paling utama? Beliau menjawab: Salat pada waktunya. Aku bertanya lagi, Kemudian apa? Beliau menjawab: Berbakti kepada kedua orang tua. Kembali aku bertanya: Kemudian apa? Beliau menjawab: Berjuang di jalan Allah. Aku tidak bertanya lagi kepada beliau untuk menjaga perasaan beliau. (Shahih Muslim No.120)
30. Menyekutukan Allah adalah dosa paling besar dan menjelaskan dosa besar lainnya setelah itu
· Hadis riwayat Abdullah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam: Dosa apakah yang paling besar menurut Allah? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu. Aku berkata: Sungguh, dosa demikian memang besar. Kemudian apa lagi? Beliau menjawab: Engkau membunuh anakmu karena takut miskin. Aku tanya lagi: Kemudian apa? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Engkau berzina dengan istri tetanggamu. (Shahih Muslim No.124)
31. Menerangkan dosa-dosa besar dan yang paling besar
· Hadis riwayat Abdurrahman bin Abu Bakrah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Kami sedang berada di dekat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. ketika beliau bersabda: Tidak inginkah kalian kuberitahu tentang dosa-dosa besar yang paling besar? (beliau mengulangi pertanyaan itu tiga kali) yaitu; menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua dan persaksian palsu. Semula Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersandar, lalu duduk. Beliau terus mengulangi sabdanya itu, sehingga kami membatin: Mudah-mudahan beliau diam. (Shahih Muslim No.126)
· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam. tentang dosa-dosa besar, beliau bersabda: Menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh manusia dan persaksian palsu. (Shahih Muslim No.127)
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Jauhilah tujuh hal yang merusak. Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, apa tujuh hal itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, makan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan pertempuran dan menuduh berzina wanita-wanita yang terjaga (dari berzina) yang lalai dan beriman. (Shahih Muslim No.129)
· Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Di antara dosa-dosa besar, yaitu memaki kedua orang tua. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dapat memaki kedua orang tuanya? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Dia memaki bapak orang lain, lalu orang lain itu memaki bapaknya. Dia memaki ibu orang lain, lalu orang lain itu memaki ibunya. (Shahih Muslim No.130)
32. Siapa yang meninggal tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk surga dan siapa yang meninggal dalam kemusyrikan, maka ia masuk neraka
· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka. Dan aku (Abdullah) sendiri berkata: Siapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, niscaya ia masuk surga. (Shahih Muslim No.134)
· Hadis riwayat Abu Zar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Jibril as. mendatangiku dengan membawa kabar gembira bahwa barang siapa di antara umatmu meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk surga. Aku (Abu Dzar) bertanya: Meskipun ia berzina dan mencuri? Nabi menjawab: Meskipun ia berzina dan mencuri. (Shahih Muslim No.137)
33. Larangan membunuh orang kafir yang telah mengucapkan: Laa ilaaha illallah
· Hadis riwayat Miqdad bin Aswad Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bertemu dengan seorang kafir, lalu ia menyerangku. Dia penggal salah satu tanganku dengan pedang, hingga terputus. Kemudian ia berlindung dariku pada sebuah pohon, seraya berkata: Aku menyerahkan diri kepada Allah (masuk Islam). Bolehkah aku membunuhnya setelah ia mengucapkan itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Jangan engkau bunuh ia. Aku memprotes: Wahai Rasulullah, tapi ia telah memotong tanganku. Dia mengucapkan itu sesudah memotong tanganku. Bolehkah aku membunuhnya? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tetap menjawab: Tidak, engkau tidak boleh membunuhnya. Jika engkau membunuhnya, maka engkau seperti ia sebelum engkau membunuhnya, dan engkau seperti ia sebelum ia mengucapkan kalimat yang ia katakan. (Shahih Muslim No.139)
· Hadis riwayat Usamah bin Zaid Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menjumpai seorang kafir. Dia mengucapkan: Laa ilaaha illallah, tetapi aku tetap menikamnya. Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku, maka aku menuturkannya kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bertanya: Apakah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah dan engkau tetap membunuhnya? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak? Beliau terus mengulangi perkataan itu kepadaku, hingga aku berkhayal kalau saja aku baru masuk Islam pada hari itu. Saad berkata: Demi Allah, aku tidak membunuh seorang muslim, hingga dibunuh Dzul Buthain, Usamah. Seseorang berkata: Bukankah Allah telah berfirman: Dan perangilah mereka, agar tidak ada fitnah dan agar agama itu semata-mata untuk Allah. Saad berkata: Kami telah berperang, agar tidak ada fitnah. Sedangkan engkau dan pengikut-pengikutmu ingin berperang, agar timbul fitnah. (Shahih Muslim No.140)
34. Sabda Nabi Shallallahu alaihi wassalam: Barang siapa yang menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami
· Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami. (Shahih Muslim No.143)
· Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu: Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami. (Shahih Muslim No.145)
35. Haram menampar pipi, merobek baju, dan berdoa dengan doa orang Jahiliyah
· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Bukan termasuk golongan kami, orang yang menampar pipi (ketika tertimpa musibah), merobek-robek baju atau berdoa dengan doa Jahiliyah (meratapi kematian mayit seraya mengharap-harap celaka). (Shahih Muslim No.14 8)
36. Menerangkan sangat diharamkan menghasut
· Hadis riwayat Hudzaifah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang suka menghasut. (Shahih Muslim No.151)
37. Menerangkan haram menjuraikan kain, mengungkit-ungkit pemberian dan melariskan dagangan dengan bersumpah, menerangkan tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak pula dipandang atau disucikan dan mereka mendapatkan siksa pedih
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ada tiga orang yang nanti pada hari kiamat tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang, tidak disucikan dan mereka mendapatkan siksa yang pedih, yaitu; orang yang mempunyai kelebihan air di gurun sahara tetapi tidak mau memberikannya kepada musafir; orang yang membuat perjanjian dengan orang lain untuk menjual barang dagangan sesudah Asar; ia bersumpah demi Allah bahwa telah mengambil (membeli) barang itu dengan harga sekian dan orang lain tersebut mempercayainya, padahal sebenarnya tidak demikian; orang yang berbaiat kepada pemimpin untuk kepentingan dunia. Jika sang pemimpin memberikan keuntungan duniawi kepadanya, ia penuhi janjinya, tapi bila tidak, maka ia tidak penuhi janjinya. (Shahih Muslim No.157)
38. Kerasnya larangan bunuh diri. Orang yang bunuh diri dengan suatu alat, akan disiksa dengan alat tersebut dalam neraka dan tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang pasrah
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa yang bunuh diri dengan benda tajam, maka benda tajam itu akan dipegangnya untuk menikam perutnya di neraka Jahanam. Hal itu akan berlangsung terus selamanya. Barang siapa yang minum racun sampai mati, maka ia akan meminumnya pelan-pelan di neraka Jahanam selama-lamanya. Barang siapa yang menjatuhkan diri dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan jatuh di neraka Jahanam selama-lamanya. (Shahih Muslim No.15 8)
· Hadis riwayat Tsabit bin Dhahhak Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa yang bersumpah dengan agama selain Islam secara dusta, maka ia seperti apa yang ia ucapkan. Barang siapa yang bunuh diri dengan sesuatu, maka ia akan disiksa dengan sesuatu itu pada hari kiamat. Seseorang tidak boleh bernazar dengan sesuatu yang tidak ia miliki. (Shahih Muslim No.159)
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku ikut Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dalam perang Hunain. Kepada seseorang yang diakui keIslamannya beliau bersabda: Orang ini termasuk ahli neraka. Ketika kami telah memasuki peperangan, orang tersebut berperang dengan garang dan penuh semangat, kemudian ia terluka. Ada yang melapor kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.: Wahai Rasulullah, orang yang baru saja engkau katakan sebagai ahli neraka, ternyata pada hari ini berperang dengan garang dan sudah meninggal dunia. Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ia pergi ke neraka. Sebagian kaum muslimin merasa ragu. Pada saat itulah datang seseorang melapor bahwa ia tidak mati, tetapi mengalami luka parah. Pada malam harinya, orang itu tidak tahan menahan sakit lukanya, maka ia bunuh diri. Hal itu dikabarkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Beliau bersabda: Allah Maha besar, aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Kemudian beliau memerintahkan Bilal untuk memanggil para sahabat: Sesungguhnya tidak akan masuk surga, kecuali jiwa yang pasrah. Dan sesungguhnya Allah mengukuhkan agama ini dengan orang yang jahat. (Shahih Muslim No.162)
· Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bertemu dengan orang-orang musyrik dan terjadilah peperangan, dengan dukungan pasukan masing-masing. Seseorang di antara sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tidak membiarkan musuh bersembunyi, tapi ia mengejarnya dan membunuhnya dengan pedang. Para sahabat berkata: Pada hari ini, tidak seorang pun di antara kita yang memuaskan seperti yang dilakukan oleh si fulan itu. Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ingatlah, si fulan itu termasuk ahli neraka. Salah seorang sahabat berkata: Aku akan selalu mengikutinya. Lalu orang itu keluar bersama orang yang disebut Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sebagai ahli neraka. Kemana pun ia pergi, orang itu selalu menyertainya. Kemudian ia terluka parah dan ingin mempercepat kematiannya dengan cara meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedang berada di dadanya, lalu badannya ditekan pada pedang hingga meninggal. Orang yang selalu mengikuti datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan berkata: Aku bersaksi bahwa engkau memang utusan Allah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bertanya: Ada apa ini? Orang itu menjawab: Orang yang engkau sebut sebagai ahli neraka, orang-orang menganggap besar (anggapan itu), maka aku menyediakan diri untuk mengikutinya, lalu aku mencarinya dan aku dapati ia terluka parah, ia berusaha mempercepat kematian dengan meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedang berada di dadanya, kemudian ia menekan badannya hingga meninggal. Pada saat itulah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga, seperti yang tampak pada banyak orang, padahal sebenarnya ia ahli neraka. Dan ada orang yang melakukan perbuatan ahli neraka, seperti yang tampak pada banyak orang, padahal ia termasuk ahli surga. (Shahih Muslim No.163)
· Hadis riwayat Jundab Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: Ada seorang lelaki yang hidup sebelum kalian, keluar bisul pada tubuhnya. Ketika bisul itu membuatnya sakit, ia mencabut anak panah dari tempatnya, lalu membedah bisul itu. Akibatnya, darah tidak berhenti mengalir sampai orang itu meninggal. Tuhan kalian berfirman: Aku haramkan surga atasnya. (Shahih Muslim No.164)
39. Kerasnya larangan berkhianat dan bahwa tidak masuk surga kecuali orang-orang yang beriman
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Kami pergi berperang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menuju Khaibar. Allah memberikan kemenangan kepada kami, tetapi kami tidak mendapatkan rampasan perang berupa emas atau perak. Yang kami peroleh adalah barang-barang, makanan dan pakaian. Kemudian kami berangkat menuju lembah. Ikut pula bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. seorang budak beliau (pemberian seseorang dari Judzam). Budak itu bernama Rifa’ah bin Zaid dari Bani Dhubaib. Ketika kami menuruni lembah, budak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. berdiri untuk melepas pelananya. Tetapi, ia terkena anak panah dan itulah saat kematiannya. Kami berkata: Kami senang ia gugur syahid wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Tidak! Demi Zat yang menguasai Muhammad. Sesungguhnya sebuah mantel akan mengobarkan api neraka atasnya. Mantel itu ia ambil dari harta rampasan perang Khaibar, yang bukan jatahnya. Para sahabat menjadi takut. Lalu seseorang datang membawa seutas atau dua utas tali sandal, seraya berkata: Wahai Rasulullah, aku mendapatkannya pada waktu perang Khaibar. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seutas tali (atau dua utas tali) sandal dari neraka. (Shahih Muslim No.166)
40. Kekhawatiran mukmin bahwa amalnya akan sia-sia
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika ayat berikut ini turun: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, Tsabit bin Qais sedang duduk di rumahnya dan berkata: Aku ini termasuk ahli neraka. Dia menjauhi diri dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bertanya kepada Saad bin Muaz: Hai Abu Amru, bagaimana keadaan Tsabit? Apakah ia sakit? Saad menjawab: Sesungguhnya ia adalah tetanggaku, aku tidak melihat pada dirinya suatu penyakit. Lalu Saad mendatangi Tsabit dan menuturkan perkataan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Lalu Tsabit berkata: Ayat ini telah diturunkan, padahal kalian tahu bahwa aku adalah orang yang paling keras suaranya, melebihi suara Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Jadi aku ini termasuk ahli neraka. Kemudian Saad menuturkan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: (Tidak demikian), tetapi sebaliknya, ia termasuk ahli surga. (Shahih Muslim No.170)
41. Apakah segala perbuatan di masa jahiliyah akan diperhitungkan
· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam: Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum karena perbuatan kami di masa jahiliyah? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa di antara kalian berbuat baik di masa Islam, maka ia tidak akan dikenai hukuman karena perbuatannya di masa jahiliyah. Tetapi barang siapa yang berbuat jelek, maka ia akan dihukum karena perbuatannya di masa jahiliyah dan di masa Islam. (Shahih Muslim No.171)
42. Islam menghilangkan dosa yang lalu, begitu pula hijrah dan haji
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Di antara orang musyrik banyak yang telah membunuh dan banyak pula yang telah berzina. Kemudian mereka datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. Mereka berkata: Apa yang engkau katakan dan engkau ajak sungguh bagus. Kalau saja engkau mau memberitahu kami bahwa dosa yang telah kami perbuat (di masa jahiliyah) ada penghapusnya. Lalu turun ayat: Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). Juga diturunkan ayat: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. (Shahih Muslim No.174)
43. Menerangkan hukum perbuatan orang kafir setelah memeluk Islam
· Hadis riwayat Hakim bin Hizam Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.: Apa pendapatmu tentang beberapa perkara yang dahulu, di masa jahiliyah aku menyembahnya. Apakah aku akan menerima hukuman karena itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Engkau memeluk Islam dengan kebaikan dan ketaatan yang dahulu engkau lakukan. (Shahih Muslim No.175)
44. Kebenaran dan kemurnian iman
· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika turun ayat: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. merasa sedih. Kata mereka: Siapakah di antara kita yang tidak menganiaya dirinya? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Maksudnya bukan seperti yang kalian duga, tetapi seperti yang dikatakan Lukman kepada anaknya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (Shahih Muslim No.17 8)
45. Allah tidak memperhitungkan kata hati dan yang terbersit dalam hati selama tidak dikerjakan
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya Allah melewati (tidak memperhitungkan) kata hati pada umatku, selama mereka tidak mengatakannya atau melakukannya. (Shahih Muslim No.181)
46. Bila seseorang bermaksud baik, maka kebaikan itu dicatat dan bila bermaksud buruk, maka maksud buruk itu tidak dicatat
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Allah Taala berfirman (kepada malaikat pencatat amal): Bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan jelek, maka janganlah kalian catat sebagai amalnya. Jika ia telah mengerjakannya, maka catatlah sebagai satu keburukan. Dan bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan baik, lalu tidak jadi melaksanakannya, maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika ia mengamalkannya, maka catatlah kebaikan itu sepuluh kali lipat. (Shahih Muslim No.183)
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu: Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tentang apa yang diriwayatkan dari Allah Taala bahwa Allah berfirman: Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan kejelekan. Kemudian beliau (Rasulullah) menerangkan: Barang siapa yang berniat melakukan kebaikan, tetapi tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat niat itu sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya. Jika ia meniatkan perbuatan baik dan mengerjakannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak. Kalau ia berniat melakukan perbuatan jelek, tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat hal itu sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika ia meniatkan perbuatan jelek itu, lalu melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejelekan. (Shahih Muslim No.187)
47. Gangguan dalam iman dan saran bagi orang yang merasakannya
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tak henti-hentinya manusia bertanya-tanya, sampai-sampai dikatakan: Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Barang siapa yang merasakan keraguan dalam hatinya, maka hendaklah ia berkata: Aku beriman kepada Allah. (Shahih Muslim No.190)
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu: Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Allah Taala berfirman: Sesungguhnya umatmu tak henti-hentinya bertanya: Kenapa begini, kenapa begini? Sampai-sampai mereka mengatakan: Allah menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah. (Shahih Muslim No.195)
48. Orang yang memotong hak orang Islam dengan sumpah palsu diancam dengan siksa neraka
· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu: Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Barang siapa yang bersumpah dengan sumpah yang memaksa, untuk mengambil harta seorang muslim, sedangkan ia melakukan kepalsuan dalam sumpahnya itu, maka ia akan bertemu Allah dalam keadaan murka kepadanya. (Shahih Muslim No.197)
49. Dalil yang menunjukkan bahwa orang yang bermaksud mengambil harta orang lain tanpa hak, berarti darahnya sia-sia dan jika ia terbunuh, maka masuk neraka dan bahwa orang yang terbunuh karena mempertahankan hartanya adalah mati syahid
· Hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa yang terbunuh demi mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid. (Shahih Muslim No.202)
50. Penguasa yang menipu rakyatnya akan mendapatkan neraka
· Hadis riwayat Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu’anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seorang hamba yang diserahi Allah memimpin rakyatnya mati sebagai penipu rakyatnya pada saat ia mati, maka Allah mengharamkan baginya masuk ke surga-Nya. (Shahih Muslim No.203)
51. Hilangnya amanat dan iman dari hati dan merasuknya fitnah ke dalam hati
· Hadis riwayat Hudzaifah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menceritakan kepada kami dua hadis. Yang satu aku sudah tahu dan aku masih menunggu yang satu lagi. Beliau menceritakan kepada kami bahwa Amanat berada di pangkal hati manusia. Kemudian Alquran turun dan mereka tahu dari Alquran dan dari hadis. Kemudian beliau menceritakan kepada kami tentang hilangnya amanat, beliau bersabda: Seseorang tidur dengan nyenyak, lalu dicabutnya amanat dari dalam hatinya, maka tampak tinggal bekasnya seperti bercak. Kemudian ia tidur lagi, dan dicabutnya amanat tersebut dari hatinya, maka tinggallah bekasnya seperti tempat kosong, seperti batu yang jatuh di atas kakimu, bekas tatapan batu itu terus membengkak sedang di dalamnya kosong dan Nabi mengambil batu kecil lalu menjatuhkannya di atas kaki beliau. Kemudian beliau melanjutkan: Orang-orang saling berbaiat, tapi mereka tidak menjalankan amanat, sehingga dikatakan bahwa di antara bani fulan ada seorang yang jujur dan kepadanya dikatakan: Alangkah tabahnya orang ini, alangkah jujurnya ia, alangkah pandainya ia. Sedangkan di hatinya tidak ada iman meski sebesar biji Shallallahu alaihi wassalami. Ternyata telah datang suatu zaman, di mana aku sudah tidak peduli siapa yang berbaiat kepadaku, kalau ia seorang muslim maka agamanya akan melarangnya berkhianat dan jika ia seorang Kristen atau Yahudi niscaya para pemimpinnya akan melarang mereka berkhianat kepadaku, adapun hari ini aku tidak akan membaiat kalian kecuali si fulan dan si fulan. (Shahih Muslim No.206)
52. Menjelaskan bahwa Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing, bahwa Islam berlindung di antara mesjid-mesjid
· Hadis riwayat Hudzaifah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika kami bersama Umar Radhiyallahu’anhu ia bertanya: Siapakah di antara kalian yang mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda tentang fitnah? Beberapa sahabat berkata: Kami pernah mendengarnya. Umar berkata: Barangkali yang kalian maksudkan adalah fitnah seseorang berhubungan dengan keluarga dan tetangganya? Mereka menjawab: Ya, benar. Umar berkata: Itu bisa dihapus dengan salat, puasa dan zakat. Tetapi (yang aku maksud), siapakah di antara kalian yang pernah mendengar sabda Nabi Shallallahu alaihi wassalam.: Fitnah yang berombak seperti ombak laut? Orang-orang terdiam. Lalu Hudzaifah berkata: Aku. Umar berkata: Engkau, beruntung ayahmu (Lillahi abuka, pujian orang Arab kepada seorang yang istimewa). Kata Hudzaifah: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Fitnah-fitnah akan melekat di hati bagaikan tikar, dengan berulang-ulang. Setiap hati yang termakan fitnah itu, maka pada hatinya akan terdapat bintik hitam dan setiap hati yang menolaknya, maka akan muncul bintik putih. Sehingga hati tersebut menjadi terbagi dua, putih yang bagaikan batu besar, sehingga tidak akan terkena bahaya fitnah, selama masih ada langit dan bumi. Sedangkan bagian yang lain hitam keabu-abuan seperti kuali terbalik, tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, kecuali hanya hawa nafsu yang diserap (hatinya). (Shahih Muslim No.207)
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya iman akan berkumpul di Madinah, sebagaimana ular berkumpul di sarangnya. (Shahih Muslim No.210)
53. Menyembunyikan keimanan bagi orang yang takut
· Hadis riwayat Hudzaifah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Kami sedang berada bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. ketika beliau bersabda: Hitunglah, berapa orang yang menyatakan Islam? Lalu kata Hudzaifah: Kami berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau khawatir pada kami, sedangkan kami berjumlah antara enam hingga tujuh ratus orang. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Kalian tidak tahu, mungkin suatu saat nanti kalian mendapat cobaan. Hudzaifah Radhiyallahu’anhu berkata: Maka kami benar-benar diuji sampai-sampai seorang di antara kami tidak melaksanakan salat kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi. (Shahih Muslim No.213)
54. Membujuk hati orang yang takut akan keimanannya karena kelemahannya dan larangan memastikan iman tanpa dalil yang pasti
· Hadis riwayat Saad Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membagikan suatu pembagian. Lalu aku mengusulkan: Wahai Rasulullah, berilah si fulan, karena ia seorang mukmin. Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ataukah ia seorang muslim? Tiga kali aku mengusulkan hal itu dan tiga kali pula mendapat jawaban beliau yang sama: Ataukah ia seorang muslim? Kemudian beliau bersabda: Terkadang aku memberi seseorang, padahal ada orang lain yang lebih aku sukai darinya, karena khawatir Allah akan melemparnya di neraka (yakni pemberian itu dimaksudkan untuk membujuk hati orang yang diberi, agar tidak kembali menjadi kafir, sehingga ia dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka). (Shahih Muslim No.214)
55. Tambahnya ketenangan hati dengan kejelasan dalil-dalil
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Kami lebih pantas ragu ketimbang Ibrahim as. ketika ia berkata: Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati? Allah berfirman: Apakah engkau tidak percaya? Ibrahim menjawab: Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. melanjutkan: Semoga Allah memberikan rahmat kepada Luth. Dia benar-benar telah berlindung kepada golongan yang kuat. Seandainya aku tinggal di penjara seperti lamanya Yusuf tinggal di sana, mungkin aku akan memenuhi seruan penyeru (utusan raja). (Shahih Muslim No.216)
56. Kewajiban mengimani risalah nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. atas seluruh manusia dan penghapusan agama-agama sebelumnya dengan adanya agama Islam
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tidak ada seorang nabi, kecuali diberi mukjizat kenabian yang sesuai, yang diimani manusia. Sedangkan yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diturunkan Allah. Aku berharap, akulah yang paling banyak pengikut dibanding mereka nanti di hari kiamat. (Shahih Muslim No.217)
· Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ada tiga orang yang diberi pahala dua kali: Pertama, seorang dari ahli kitab (Yahudi atau Kristen) yang beriman kepada nabinya dan sempat mengalami masa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. lalu beriman kepadanya, mengikuti dan membenarkannya, maka ia mendapat dua pahala. Kedua, budak sahaya yang menunaikan hak Allah Taala dan hak tuannya, maka ia mendapat dua pahala. Dan ketiga, seseorang yang mempunyai budak perempuan lalu diberinya makan dengan baik, mendidiknya dengan baik, lalu memerdekakannya dan mengawininya, maka ia mendapat dua pahala. (Shahih Muslim No.219)
57. Turunnya Isa bin Maryam as. sebagai penguasa dengan menjalankan syariat nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam.
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, telah dekat waktunya Isa bin Maryam turun kepada kalian untuk menjadi hakim yang adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi dan tidak menerima upeti. Harta akan melimpah, sehingga tak seorang pun mau menerimanya. (Shahih Muslim No.220)
58. Menerangkan masa di mana iman tidak lagi diterima
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Hari Kiamat tidak akan terjadi sebelum matahari terbit dari barat. Apabila matahari telah terbit dari barat, maka seluruh manusia akan beriman. Tetapi (Pada saat itu), tidak bermanfaat lagi iman seseorang untuk dirinya sendiri pada apa yang belum diimaninya atau pada kebaikan yang belum diusahakannya di masa imannya. (Shahih Muslim No.226)
· Hadis riwayat Abu Zar Radhiyallahu’anhu: Bahwa pada suatu hari Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tahukah kalian ke mana matahari pergi? Para sahabat menjawab Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda lagi: Matahari berjalan hingga berakhir sampai ke tempat menetapnya di bawah Arsy, lalu menjatuhkan diri bersujud. Dia (matahari) terus dalam keadaan begitu hingga difirmankan kepadanya: Naiklah, kembalilah dari mana engkau datang. Matahari pun kembali, sehingga di waktu pagi terbit lagi dari tempat terbitnya. Kemudian berjalan, hingga berakhir pada tempat menetapnya di bawah Arsy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan begitu, sampai difirmankan kepadanya: Naiklah, kembalilah dari mana engkau datang. Matahari kembali, sehingga di waktu pagi muncul dari tempat terbitnya. Kemudian ia kembali berjalan tanpa sedikit pun manusia menyadarinya, hingga berakhir pada tempat menetapnya itu di bawah Arsy, lalu difirmankan kepadanya: Naiklah, terbitlah dari Barat. Maka pagi berikutnya, matahari terbit dari sebelah Barat. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. melanjutkan: Tahukah kalian kapan itu terjadi? Itu terjadi saat: Tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau ia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. (Shahih Muslim No.22 8)
59. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.
· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam. ia berkata: Wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah mimpi yang benar. Setiap kali beliau bermimpi, mimpi itu datang bagaikan terangnya Subuh. Kemudian beliau sering menyendiri. Biasanya beliau menyepi di gua Hira’. Di sana, beliau beribadah beberapa malam, sebelum kembali kepada keluarganya (istrinya) dan mempersiapkan bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang ke Khadijah, mengambil bekal lagi untuk beberapa malam. Hal itu terus beliau lakukan sampai tiba-tiba wahyu datang ketika beliau sedang berada di gua Hira’. Malaikat (Jibril as.) datang dan berkata: Bacalah. Beliau menjawab: Aku tidak dapat membaca. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Malaikat itu menarik dan mendekapku, hingga aku merasa kepayahan. Lalu ia melepaskanku seraya berkata: Bacalah. Aku menjawab: Aku tidak dapat membaca. Dia menarik dan mendekapku lagi, hingga aku merasa kepayahan. Kemudian ia melepaskan sambil berkata: Bacalah. Aku menjawab: Aku tidak dapat membaca. Dan untuk yang ketiga kalinya ia menarik dan mendekapku sehingga aku merasa kepayahan, lalu ia melepaskanku dan berkata: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak ia ketahui. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pulang membawa ayat tersebut dalam keadaan gemetar, hingga beliau masuk ke rumah Khadijah seraya berkata: Selimuti aku, selimuti aku! Keluarganya pun menyelimutinya, hingga gemetarnya hilang. Kemudian beliau berkata kepada Khadijah: Hai Khadijah, apa yang telah terjadi denganku? Lalu beliau menceritakan seluruh peristiwa. Beliau berkata: Aku benar-benar khawatir terhadap diriku. Khadijah menghibur beliau: Jangan begitu, bergembirahlah. Demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Demi Allah, sungguh engkau telah menyambung tali persaudaraan, engkau jujur dalam berkata: engkau telah memikul beban orang lain, engkau sering membantu keperluan orang tak punya, menjamu tamu dan selalu membela kebenaran. Kemudian Khadijah mengajak beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, saudara misan Khadijah. Dia adalah seorang penganut Kristen di masa Jahiliyah. Dia pandai menulis kitab berbahasa Arab dan menerjemahkan kitab Injil ke bahasa Arab, sesuai dengan kehendak Allah. Dia telah tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya: Paman, dengarkanlah cerita keponakanmu ini (Muhammad). Waraqah bin Naufal berkata: Hai keponakanku, apa yang engkau alami? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menceritakan semua peristiwa yang beliau alami. Mendengar penuturan itu, Waraqah berkata: Ini adalah Namus (Jibril as.) yang dahulu datang kepada Musa as. Seandainya saja di saat kenabianmu aku masih muda. Oh… seandainya saja aku masih hidup pada saat engkau diusir oleh kaummu. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bertanya: Apakah mereka akan mengusirku? Waraqah menjawab: Ya, setiap orang yang datang mengemban tugas sepertimu pasti dimusuhi. Jika harimu itu sempat kualami, tentu aku akan membelamu mati-matian. (Shahih Muslim No.231)
· Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Al-Anshari Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menceritakan tentang masa terhentinya wahyu: Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat kepalaku, ternyata malaikat yang pernah mendatangiku di gua Hira’ sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi. Aku gemetar ketakutan. Lalu aku pulang dan berkata: Selimuti aku, selimuti aku. Keluargaku menyelimutiku. Ketika itulah Allah swt. menurunkan ayat: Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu, agungkanlah. Dan pakaianmu, bersihkanlah. Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah. Perbuatan dosa artinya menyembah berhala. Kemudian wahyu turun berturut-turut. (Shahih Muslim No.232)
60. Isra’ Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. ke langit dan diwajibkan salat
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Aku didatangi Buraq. Lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata: Engkau telah memilih fitrah. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya: Siapakah engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawab Jibril: Ya, ia telah diutus. Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril: Jibril. Ditanya lagi: Siapakah yang bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. jawabnya. Ditanyakan: Dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Ternyata ia telah dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi. Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Dijawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Dijawab: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanyakan: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan: Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman: Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya. (Shahih Muslim No.234)
· Hadis riwayat Malik bin Sha`sha`ah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ketika aku sedang berada di dekat Baitullah antara tidur dan jaga, tiba-tiba aku mendengar ada yang berkata: Salah satu dari tiga yang berada di antara dua orang. Lalu aku didatangi dan dibawa pergi. Aku dibawakan bejana dari emas yang berisi air Zamzam. Lalu dadaku dibedah hingga ini dan ini. Qatadah berkata: Aku bertanya: Apa yang beliau maksud? Anas menjawab: Hingga ke bawah perutnya. Hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air Zamzam, kemudian dikembalikan ke tempatnya dan mengisinya dengan iman dan hikmah. Lalu aku didatangi binatang putih yang disebut Buraq, lebih tinggi dari khimar dan kurang dari bighal, ia meletakkan langkahnya pada pandangannya yang paling jauh. Aku ditunggangkan di atasnya. Lalu kami berangkat hingga ke langit dunia. (Sampai di sana) Jibril minta dibukakan. Dia ditanya: Siapa ini? Jibril menjawab Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Ya, jawabnya. Malaikat penjaga itu membukakan kami dan berkata: Selamat datang padanya. Sungguh, merupakan kedatangan yang baik. Lalu kami datang kepada Nabi Adam as. (selanjutnya seperti kisah pada hadis di atas). Anas menjelaskan bahwa Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as. di langit kedua, di langit ketiga dengan Nabi Yusuf as. di langit keempat dengan Nabi Idris as. di langit kelima dengan Nabi Harun as. Selanjutnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Kemudian kami berangkat lagi. Hingga tiba di langit keenam. Aku datang kepada Nabi Musa as. dan mengucap salam kepadanya. Dia berkata: Selamat datang kepada saudara dan nabi yang baik. Ketika aku meninggalkannya, ia menangis. Lalu ada yang berseru: Mengapa engkau menangis? Nabi Musa menjawab: Tuhanku, orang muda ini Engkau utus setelahku, tetapi umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada umatku. Kami melanjutkan perjalanan hingga langit ketujuh. Aku datang kepada Nabi Ibrahim as. Dalam hadis ini dituturkan, Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bercerita bahwa beliau melihat empat sungai. Dari hilirnya, keluar dua sungai yang jelas dan dua sungai yang samar. Aku (Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.) bertanya: Hai Jibril, sungai apakah ini? Jibril menjawab: Dua sungai yang samar adalah dua sungai di surga, sedangkan yang jelas adalah sungai Nil dan Furat. Selanjutnya aku diangkat ke Baitulmakmur. Aku bertanya: Hai Jibril, apa ini? Jibril menjawab: Ini adalah Baitulmakmur. Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat masuk ke dalamnya. Apabila mereka keluar, tidak akan masuk kembali. Itu adalah akhir mereka masuk. Kemudian aku ditawarkan dua bejana, yang satu berisi arak dan yang lain berisi susu. Keduanya disodorkan kepadaku. Aku memilih susu. lalu dikatakan: Tepat! Allah menghendaki engkau (berada pada fitrah, kebaikan dan keutamaan). Begitu pula umatmu berada pada fitrah. Kemudian diwajibkan atasku salat lima puluh kali tiap hari. Demikian kisah seterusnya sampai akhir hadis. (Shahih Muslim No.23 8)
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menuturkan perjalanan Isra’nya. Beliau bersabda: Nabi Musa as. berkulit Shallallahu alaihi wassalamo matang, tingginya seperti lelaki Syanu’ah (nama kabilah). Beliau bersabda pula: Nabi Isa as. itu gempal, tingginya sedang. Beliau juga menuturkan tentang Malik as. penjaga Jahanam dan Dajjal. (Shahih Muslim No.239)
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. melewati lembah Azraq. Beliau bertanya: Lembah apa ini? Para sahabat menjawab: Ini lembah Azraq. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Aku seperti melihat Nabi Musa as. sedang menuruni bukit dan memohon kepada Allah dengan suara keras melalui talbiah. Ketika sampai di bukit Harsya, beliau berkata: Bukit apa ini? Para sahabat menjawab: Bukit Harsya (dekat Juhfah). Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Aku seperti melihat Nabi Yunus bin Matta as. berada di atas unta merah yang gempal. Dia memakai mantel bulu wol dan tali kekang untanya adalah sabut, ia sedang bertalbiah. (Shahih Muslim No.241)
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ketika aku diisra’kan, aku bertemu dengan Nabi Musa as., ia seorang lelaki yang tinggi kurus dengan rambut berombak, seperti seorang Bani Syanu’ah. Aku juga bertemu dengan Nabi Isa as. ia berperawakan sedang, berkulit merah, seakan-akan baru keluar dari pemandian. Aku bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Akulah keturunannya yang paling mirip dengannya. Lalu aku diberi dua bejana, yang satu berisi susu dan yang lain berisi arak. Dikatakan padaku: Ambillah yang engkau suka. Aku mengambil susu dan meminumnya. Kemudian dikatakan: Engkau diberi petunjuk dengan fitrah atau engkau menepati fitrah. Seandainya engkau mengambil arak, niscaya sesat umatmu. (Shahih Muslim No.245)
61. Menjelaskan Masih Bin Maryam Dan Masih Dajjal
· Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Pada suatu malam aku bermimpi di dekat Kakbah, melihat seorang lelaki berkulit Shallallahu alaihi wassalamo matang, seperti warna coklat paling bagus yang pernah engkau lihat. Dia berambut gondrong, gondrong terbaik yang pernah engkau lihat. Dia menyisir rambutnya dan masih tampak menetes airnya. Dia bersandar kepada dua orang atau pundak dua orang lelaki, melakukan tawaf di Kakbah. Aku bertanya: Siapakah orang ini? Dijawab: Ini adalah Masih bin Maryam. Tiba-tiba aku melihat seorang lelaki yang sangat keriting, mata kanannya buta seakan-akan mata itu buah anggur yang mengapung (matanya melotot). Aku bertanya: Siapakah ini? dijawab: Ini adalah Masih Dajjal. (Shahih Muslim No.246)
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Aku melihat diriku berada di Hijir Ismail, dan seorang Quraisy bertanya kepadaku tentang perjalanan isra’ku. Mereka bertanya berbagai hal mengenai Baitulmakdis yang tidak begitu kuingat. Aku sangat merasakan kesulitan yang belum pernah kualami. Lalu Allah memperlihatkannya kepadaku dari kejauhan, sehingga aku dapat melihatnya. Apapun yang mereka tanyakan kepadaku, pasti aku ceritakan kepada mereka. Aku melihat diriku berada di antara sekelompok nabi. Ada Nabi Musa as. yang sedang mengerjakan salat, ternyata ia itu seorang lelaki tinggi kurus dengan rambut keriting, ia seperti seorang suku Syanu’ah. Ada pula Nabi Isa bin Maryam as. yang sedang mengerjakan salat. Orang yang paling mirip dengannya adalah Urwah bin Masud As-Tsaqafi. Ada juga Nabi Ibrahim as. yang sedang mengerjakan salat. Orang yang paling menyerupainya adalah sahabat kalian (maksudnya, diri beliau sendiri). Ketika datang waktu salat, aku mengimami mereka. Usai salat terdengar suaRadhiyallahu’anhu: Hai Muhammad, ini Malik, penjaga neraka. Ucapkanlah salam padanya. Aku berpaling kepadanya dan dialah yang lebih dahulu mengucap salam. (Shahih Muslim No.251)
62. Makna firman Allah: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya lagi pada waktu yang lain, dan apakah Nabi Shallallahu alaihi wassalam, melihat Tuhannya pada malam isra’
· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu: Dari Masruq ia bercerita: Ketika aku bertelekan di sisi Aisyah, Aisyah berkata: Wahai Abu Aisyah, ada tiga hal barang siapa yang membicarakan salah satunya, maka ia berbohong besar atas Allah. Aku bertanya: Tiga hal apa itu? Aisyah menjawab: (Pertama) barang siapa yang menyangka bahwa Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. melihat Tuhannya, maka ia berbohong besar atas Allah. Aku mulanya bersandar, santai, lalu duduk sambil berkata: Hai Ummul mukminin, tunggu, jangan tergesa-gesa! Bukankah Allah telah berfirman Dan sesungguhnya ia melihatnya di ufuk yang terang. Dan sesungguhnya ia telah melihatnya di waktu lain. Aisyah berkata: Aku adalah orang pertama umat ini yang menanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Beliau bersabda: Itu adalah Jibril as. aku tidak pernah melihatnya dalam bentuk aslinya, kecuali dua kali ini. Aku melihatnya turun dari langit, besarnya menutupi cakrawala antara langit dan bumi. Aisyah melanjutkan: Apakah engkau belum pernah mendengar firman Allah: Dia tidak dapat dicapai oleh mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan. Dia Maha halus dan Maha mengetahui. Tidakkah engkau mendengar firman Allah: Tidak mungkin bagi manusia berbicara dengan Tuhannya kecuali dengan perantaraan wahyu, di belakang hijab (maksudnya hanya mendengar suara), atau mengutus malaikat untuk mewahyukan apa saja yang diinginkan-Nya kepada manusia. Sesungguhnya Dia Maha tinggi dan Maha bijaksana. Aisyah berkata lagi: (Kedua) barang siapa yang menyangka bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menyembunyikan sebagian isi Kitabullah (Alquran), maka ia berbohong besar atas Allah. Allah berfirman: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan oleh Tuhanmu. Dan jika engkau tidak melakukan (perintah itu) maka engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Kemudian Aisyah melanjutkan: (Ketiga) barang siapa yang menyangka bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. diberi tahu tentang apa yang akan terjadi besok, maka ia berbohong besar atas Allah. Allah berfirman: Katakanlah Tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah. (Shahih Muslim No.259)
63. Tentang sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bahwa Allah tidak tidur dan sabda beliau bahwa tirai-Nya adalah nur, jika Dia menyingkapnya, tentu Keagungan Zat-Nya akan membakar semua makhluk-Nya
· Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. berada di tengah-tengah kami, memberikan lima kalimat. Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah Taala tidak pernah tidur dan mustahil Dia tidur, Dia kuasa menurunkan timbangan (amal) dan menaikkannya kepada-Nya, dinaikkan (dilaporkan) amal malam sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam, tirai-Nya adalah nur (menurut riwayat Abu Bakar adalah nar=api) yang andai kata Dia menyingkapnya, tentu keagungan Zat-Nya akan membakar makhluk yang dipandang-Nya (maksudnya seluruh makhluk akan terbakar, sebab pandangan Allah meliputi semua makhluk). (Shahih Muslim No.263)
64. Bukti bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Allah di akhirat
· Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari perak dan dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari emas. Antara orang-orang dan kemampuan memandang Tuhan mereka hanya ada tirai keagungan pada Zat-Nya, di surga Aden. (Shahih Muslim No.265)
65. Menjelaskan cara melihat Tuhan
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama? Para sahabat menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan? Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala. Tinggallah umat ini, termasuk di antaranya yang munafik. Kemudian Allah datang kepada mereka dalam bentuk selain bentuk-Nya yang mereka kenal, seraya berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka (umat ini) berkata: Kami berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami, sampai Tuhan kami datang kepada kami. Apabila Tuhan datang, kami tentu mengenal-Nya. Lalu Allah Taala datang kepada mereka dalam bentuk-Nya yang telah mereka kenal. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka pun berkata: Engkau Tuhan kami. Mereka mengikuti-Nya. Dan Allah membentangkan jembatan di atas neraka Jahanam. Aku (Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.) dan umatkulah yang pertama kali melintas. Pada saat itu, yang berbicara hanyalah para rasul. Doa para rasul saat itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah. Di dalam neraka Jahanam terdapat besi berkait seperti duri Sakdan (nama tumbuhan yang berduri besar di setiap sisinya). Pernahkah kalian melihat Sakdan? Para sahabat menjawab: Ya, wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. melanjutkan: Besi berkait itu seperti duri Sakdan, tetapi hanya Allah yang tahu seberapa besarnya. Besi berkait itu merenggut manusia dengan amal-amal mereka. Di antara mereka ada orang yang beriman, maka tetaplah amalnya. Dan di antara mereka ada yang dapat melintas, hingga selamat. Setelah Allah selesai memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin mengeluarkan orang-orang di antara ahli neraka yang Dia kehendaki, maka Dia memerintah para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Itulah orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya, yang mengucap: “Laa ilaaha illallah”. Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan adanya bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak keturunan Adam, kecuali bekas sujud. Allah melarang neraka memakan bekas sujud. Mereka dikeluarkan dari neraka, dalam keadaan hangus. Lalu mereka disiram dengan air kehidupan, sehingga mereka menjadi tumbuh seperti biji-bijian tumbuh dalam kandungan banjir (lumpur). Kemudian selesailah Allah Taala memberi keputusan di antara para hamba. Tinggal seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka. Dia adalah ahli surga yang terakhir masuk. Dia berkata: Ya Tuhanku, palingkanlah wajahku dari neraka, anginnya benar-benar menamparku dan nyala apinya membakarku. Dia terus memohon apa yang dibolehkan kepada Allah. Kemudian Allah Taala berfirman: Mungkin, jika Aku mengabulkan permintaanmu, engkau akan meminta yang lain. Orang itu menjawab: Aku tidak akan minta yang lain kepada-Mu. Maka ia pun berjanji kepada Allah. Lalu Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika ia telah menghadap dan melihat surga, ia pun diam tertegun, kemudian berkata: Ya Tuhanku, majukanlah aku ke pintu surga. Allah berkata: Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta kepada-Ku selain apa yang sudah Kuberikan, celaka engkau, hai anak-cucu Adam, ternyata engkau tidak menepati janji. Orang itu berkata: Ya Tuhanku! Dia memohon terus kepada Allah, hingga Allah berfirman kepadanya: Mungkin jika Aku memberimu apa yang engkau pinta, engkau akan meminta yang lain lagi. Orang itu berkata: Tidak, demi Keagungan-Mu. Dan ia berjanji lagi kepada Tuhannya. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Setelah ia berdiri di ambang pintu surga, ternyata pintu surga terbuka lebar baginya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya. Dia pun diam tertegun. Kemudian berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga. Allah Taala berfirman kepadanya: Bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta selain apa yang telah Aku berikan? Celaka engkau, hai anak cucu Adam, betapa engkau tidak dapat menepati janji! Orang itu berkata: Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling malang. Dia terus memohon kepada Allah, sehingga membuat Allah Taala tertawa (rida). Ketika Allah Taala tertawa Dia berfirman: Masuklah engkau ke surga. Setelah orang itu masuk surga, Allah berfirman kepadanya: Inginkanlah sesuatu! Orang itu meminta kepada Tuhannya, sampai Allah mengingatkannya tentang ini dan itu. Ketika telah habis keinginan-keinginannya, Allah Taala berfirman: Itu semua untukmu, begitu pula yang semisalnya. (Shahih Muslim No.267)
· Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu: Bahwa kaum muslimin pada masa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami di hari kiamat? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ya! Kemudian beliau melanjutkan: Apakah kalian terhalang melihat matahari di siang hari yang cerah, yang tidak ada awan sedikit pun? Apakah kalian terhalang melihat bulan pada malam purnama yang cerah tanpa awan sedikit pun? Kaum muslimin menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Kalian tidak akan terhalang melihat Allah Taala pada hari kiamat, sebagaimana kalian tidak terhalang melihat salah satu dari matahari dan bulan. Ketika hari kiamat terjadi, ada penyeru yang mengumumkan: Setiap umat hendaklah mengikuti apa yang dahulu disembah. Maka tidak tersisa orang-orang yang dahulu menyembah selain Allah yakni berhala, kecuali mereka berjatuhan ke dalam neraka. Hingga yang tinggal hanya orang-orang yang menyembah Allah ada yang baik dan ada yang jahat serta sisa-sisa Ahli Kitab, maka dipanggillah orang-orang Yahudi. Mereka ditanya: Apa yang dahulu kalian sembah? Mereka menjawab: Kami menyembah Uzair anak Allah. Dikatakan: Kalian salah! Allah tidak menjadikan seorang pun sebagai sahabat atau anak. Lalu apa yang kalian inginkan? Mereka menjawab: Kami haus, ya Tuhan kami berilah kami minum. Lalu ditunjukkan pada mereka: Kenapa kalian tidak datang ke sana? Mereka digiring ke neraka, seolah-olah neraka itu fatamorgana yang saling menghancurkan. Mereka pun berjatuhan ke dalam neraka. Kemudian orang-orang Kristen dipanggil. Mereka ditanya: Apa yang dahulu kalian sembah? Mereka menjawab: Kami menyembah Isa Almasih anak Allah. Dikatakan kepada mereka: Kalian salah! Allah tidak menjadikan seorang pun sebagai sahabat atau anak. Apa yang kalian inginkan? Mereka menjawab: Kami haus ya Tuhan, berilah kami minum. Lalu ditunjukkan pada mereka: Kenapa kalian tidak datang ke sana? Mereka digiring ke neraka Jahanam, seolah-olah neraka itu fatamorgana yang saling menghancurkan. Mereka pun berguguran ke dalam neraka. Ketika yang tinggal hanya orang-orang yang dahulu menyembah Allah Taala (yang baik dan yang jahat), maka Allah datang kepada mereka dalam bentuk yang lebih rendah daripada bentuk yang mereka ketahui. Dia berfirman: Apa yang kalian tunggu? Setiap umat mengikuti apa yang dahulu disembah. Mereka mengucapkan: Ya Tuhan kami, di dunia kami memisahkan diri dari orang-orang yang sebenarnya sangat kami butuhkan (untuk membantu kehidupan di dunia) dan kami tidak mau berkawan dengan mereka (karena menyimpang dari jalan yang digariskan oleh agama). Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian! Mereka mengucap: Kami mohon perlindungan kepada Allah darimu. Kami tidak akan menyekutukan Allah dengan apapun (ini diucapkan dua atau tiga kali), sampai sebagian mereka hampir-hampir berubah (berbalik dari kebenaran, karena cobaan berat yang berlaku saat itu). Allah berfirman: Apakah antara kalian dan Dia ada tanda-tanda, sehingga dengan demikian kalian dapat mengenal-Nya? Mereka menjawab: Ya, ada. Lalu disingkapkanlah keadaan yang mengerikan itu. Setiap orang yang hendak bersujud kepada Allah dengan keinginan sendiri, pasti mendapat izin Allah. Sedangkan orang yang akan bersujud karena takut atau pamer, tentu Allah menjadikan punggungnya menyatu (sehingga tidak dapat sujud). Setiap kali hendak sujud, ia terjungkal pada tengkuknya. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka, sementara itu Allah telah berganti rupa dalam bentuk yang mereka lihat pertama kali. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka menyahut: Engkau Tuhan kami. Kemudian suatu jembatan dibentangkan di atas neraka Jahanam dan syafaat diperbolehkan. Mereka berkata: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah. Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, apakah jembatan itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tempat berpijak yang licin (menggelincirkan). Padanya terdapat besi berkait dan besi berduri. Di Najed ada tumbuhan berduri yang disebut Sakdan. Seperti itulah besi-besi berkaitnya. Orang-orang mukmin melewati jembatan tersebut ada yang secepat kejapan mata, ada yang seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda atau unta yang kencang larinya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok, golongan selamat sama sekali, golongan yang terkoyak-koyak tapi dapat bebas dan golongan yang terjerumus ke dalam neraka Jahanam. Pada saat orang-orang mukmin telah terbebas dari neraka, maka demi Zat yang menguasai diriku, tidak ada orang yang sangat menaruh perhatian dalam meraih kebenaran, melebihi orang-orang mukmin yang mencari kebenaran kepada Allah demi kepentingan saudara-saudara mereka yang masih berada di neraka. Mereka berkata: Wahai Tuhan kami, mereka dahulu berpuasa bersama kami, salat dan beribadah haji. Lalu difirmankan kepada mereka: Keluarkanlah orang-orang yang kalian kenal. Maka wajah mereka diharamkan atas neraka. Mereka mengeluarkan banyak orang dari neraka. Ada yang sudah terbakar hingga separuh betisnya dan ada yang sudah sampai ke lututnya. Orang-orang mukmin itu berkata: Ya Tuhan kami, di dalam neraka tidak ada lagi seorang pun yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan. Allah berfirman: Kembalilah (lihatlah kembali)! Barang siapa yang kalian temukan di hatinya ada kebaikan meski hanya seberat dinar. Keluarkanlah. Kemudian mereka dapat mengeluarkan banyak orang. Lalu mereka berkata: Ya Tuhan kami! Kami tidak tahu apakah di neraka masih ada orang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan. Allah berfirman: Kembalilah (lihatlah kembali)! Barang siapa yang kalian temukan di hatinya ada kebaikan maski hanya seberat setengah dinar, keluarkanlah. Mereka dapat mengeluarkan lagi banyak orang. Setelah itu mereka berkata: Ya Tuhan kami! Kami tidak tahu, apakah di sana masih ada seseorang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan. Allah berfirman: Kembalilah (lihatlah kembali)! Barang siapa yang kalian temukan di dalam hatinya terdapat kebaikan meski hanya seberat atom, keluarkanlah. Lagi-lagi mereka dapat mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata: Ya Tuhan kami. Kami tidak tahu apakah di sana masih ada pemilik kebaikan. Abu Said Al-Khudri berkata: Jika kalian tidak mempercayaiku mengenai hadis ini, maka bacalah firman Allah: Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar atom. Dan jika ada kebaikan sebesar atom, niscaya Allah akan melipat-gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. Allah Taala berfirman: Para malaikat telah memohon syafaat, para nabi telah memohon syafaat dan orang-orang mukmin juga telah memohon syafaat. Yang tinggal hanyalah Zat yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang. Lalu Allah mengambil dari neraka dan mengeluarkan dari sana sekelompok orang yang sama sekali tidak pernah beramal baik. (Saat itu) mereka telah menjadi arang hitam. Mereka dilempar ke sebuah sungai dekat mulut surga, yang disebut Sungai Kehidupan. Kemudian mereka keluar seperti tumbuhan kecil keluar dari lumpur banjir. Bukankah kalian sering melihat tumbuhan kecil di sela-sela batu atau pohon, di mana bagian yang terkena sinar matahari akan berwarna sedikit kuning dan hijau, sedangkan yang berada di keteduhan menjadi putih? Para sahabat menyela: Seolah-olah baginda dahulu pernah menggembala di dusun. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. meneruskan: Lalu mereka keluar bagaikan mutiaRadhiyallahu’anhu Di leher mereka ada kalung, sehingga para ahli surga dapat mengenali mereka. Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan Allah, yang dimasukkan oleh Allah ke dalam surga, tanpa amal yang mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang mereka lakukan. Kemudian Allah berfirman: Masuklah kalian ke dalam surga. Apapun yang kalian lihat, itu adalah untuk kalian. Mereka berkata: Ya Tuhan kami, Engkau telah memberi kami pemberian yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun di antara orang-orang di seluruh alam. Allah berfirman: Di sisiku ada pemberian untuk kalian yang lebih baik daripada pemberian ini. Mereka berkata: Ya Tuhan kami, apa lagi yang lebih baik daripada pemberian ini? Allah berfirman: Rida-Ku, sehingga Aku tidak akan murka kepada kalian sesudah itu, selamanya. (Shahih Muslim No.269)
66. Penghuni neraka yang terakhir keluar
· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sungguh, aku benar-benar tahu penghuni neraka yang keluar terakhir dari sana dan penghuni surga yang terakhir masuk ke dalamnya, yaitu seorang yang keluar dari neraka dengan merangkak. Lalu Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia pun mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh. Maka ia kembali dan berkata: Ya Tuhanku, aku temukan surga telah penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh. Maka ia kembali dan berkata: Ya Tuhanku, aku temukan surga itu penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga, karena sesungguhnya menjadi milikmu semisal dunia dan sepuluh kali kelipatannya atau, sesungguhnya bagimu sepuluh kali lipat dunia. Orang itu berkata: Apakah Engkau mengejekku (atau menertawakanku), sedangkan Engkau adalah Raja? Abdullah bin Masud berkata: Aku benar-benar melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tertawa sampai kelihatan gigi geraham beliau. Dikatakan: Itu adalah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya. (Shahih Muslim No.272)
67. Penghuni surga yang paling rendah kedudukannya di dalam surga
· Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu: Dari Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu bertanya tentang kedatangan di akhirat. Jabir berkata: Kita datang pada hari kiamat dari ini dan ini. Lihat (kedatangan itu di atas manusia). Lalu dipanggillah umat manusia dengan berhala dan apa yang dahulu disembahnya secara berurutan. Sesudah itu, Tuhan mendatangi kita seraya berfirman: Siapa yang kalian tunggu? Mereka menjawab: Kami menunggu Tuhan kami. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka berkata: Sampai kami melihat-Mu. Lalu tampak bagi mereka Tuhan tertawa. (Akhirnya) Dia membawa mereka dan mereka mengikuti-Nya. Setiap orang di antara mereka, munafik atau mukmin diberi nur. Mereka terus mengikuti-Nya. Di atas jembatan neraka Jahanam terdapat besi-besi berkait dan berduri, yang merenggut barang siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian nur orang-orang munafik padam, sedangkan orang-orang mukmin tetap bersinar. Selamatlah rombongan pertama, wajah mereka bagaikan bulan purnama. Mereka berkisar 70.000 (tujuh puluh ribu) orang. Kemudian orang-orang berikutnya, wajah mereka seperti terangnya bintang-bintang di langit. Demikian seterusnya. Kemudian syafaat diizinkan. Mereka pun memintakan syafaat, hingga keluar orang-orang yang mengucap: Laa ilaaha illallah dari neraka dan orang-orang yang di hatinya terdapat kebaikan seberat gandum. Mereka ditempatkan di halaman surga, sedangkan ahli surga memerciki mereka dengan air, sampai mereka tumbuh bagaikan tumbuhnya sesuatu (tumbuhan) di dalam banjir. Hilanglah hangus tubuh mereka. Kemudian ia (orang terakhir) meminta Allah memberikannya dunia dan sepuluh kali lipatnya. (Shahih Muslim No.27 8)
68. Nabi Shallallahu alaihi wassalam. menyimpan doa syafaat untuk umatnya
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Setiap nabi memiliki doa yang selalu diucapkan. Aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.293)
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu: Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda: Setiap nabi mempunyai doa yang digunakan untuk kebaikan umatnya. Sesungguhnya aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.299)
69. Mengenai firman Allah Dan berilah peringatan berbentuk ancaman kepada kaum kerabatmu yang terdekat
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Tatkala diturunkan ayat ini: Dan peringatkanlah para kerabatmu yang terdekat, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. memanggil orang-orang Quraisy. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. berbicara secara umum dan khusus. Beliau bersabda: Wahai Bani Kaab bin Luaiy, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Murrah bin Kaab, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Abdi Syams, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Bani Abdul Muthalib, selamatkanlah diri kalian dari neraka! Wahai Fatimah, selamatkanlah dirimu dari neraka! Karena aku tidak kuasa menolak sedikit pun siksaan Allah terhadap kalian. Aku hanya punya hubungan kekeluargaan dengan kalian yang akan aku sambung dengan sungguh-sungguh. (Shahih Muslim No.303)
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Ketika diturunkan ayat ini: Dan berilah peringatan berbentuk ancaman kepada kaum kerabatmu yang terdekat, yaitu kaum kerabatmu yang benar-benar ikhlas. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. keluar dan naik ke bukit Shafa, lalu berteriak: Hati-hatilah! Orang-orang saling bertanya: Siapa yang berteriak? Di antara mereka berkata: Muhammad! Mereka pun berkumpul mengerumuni beliau. Beliau bersabda: Wahai Bani fulan! Wahai Bani fulan! Wahai Bani fulan! Wahai Bani Abdi Manaf! Wahai Bani Abdul Muthalib! Mereka mengerumuni beliau. Lalu beliau bersabda: Apa pendapat kalian seandainya aku beritahu kalian bahwa pasukan berkuda akan keluar di kaki gunung ini. Apakah kalian mempercayaiku? Orang-orang menjawab: Kami telah buktikan engkau tidak pernah berbohong. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Aku peringatkan kalian akan siksa yang sangat pedih. Mendengar itu Abu Lahab berkata: Celaka engkau! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami? Kemudian ia pergi. Lalu turunlah surat ini, Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan ia benar-benar binasa. (Shahih Muslim No.307)
70. Menjelaskan syafaat Nabi Shallallahu alaihi wassalam. kepada Abu Thalib dan keringanan siksanya karena syafaat tersebut
· Hadis riwayat Abbas bin Abdul Muthalib Radhiyallahu’anhu: Bahwa ia berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau dapat memberikan suatu manfaat kepada Abu Thalib. Karena, dahulu ia merawat dan pernah membelamu. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ya, ia berada di neraka yang paling ringan. Seandainya tidak karena (berkah) aku, tentu ia berada neraka paling bawah. (Shahih Muslim No.30 8)
· Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mendengar pamannya Abu Thalib dibicarakan dekat beliau, lalu beliau bersabda: Mudah-mudahan syafaatku dapat memberinya manfaat pada hari kiamat, sehingga ia ditempatkan di neraka paling ringan yang apinya membakar kedua mata kakinya sampai mendidihkan otaknya. (Shahih Muslim No.310)
71. Tentang siksa penghuni neraka yang paling rendah
· Hadis riwayat Nukman bin Basyir Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ahli neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat, adalah seseorang yang pada lekukan telapak kakinya diberi dua bara yang menyebabkan otaknya mendidih. (Shahih Muslim No.313)
72. Persaudaraan sesama mukmin dan memutus hubungan dengan selain mereka
· Hadis riwayat Amru bin Ash Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda dalam forum terbuka, bukan rahasia: Ingatlah, bahwa keluarga ayahku (yakni si fulan) bukanlah termasuk waliku. Sesungguhnya waliku hanyalah Allah dan orang-orang mukmin yang saleh. (Shahih Muslim No.316)
73. Dalil masuknya beberapa kelompok orang Islam yang masuk surga tanpa hisab dan siksa
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tujuh puluh ribu orang dari umatku masuk surga tanpa hisab (tanpa perhitungan amal). Seseorang berkata: Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah semoga Dia berkenan menjadikanku bagian dari mereka. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. berdoa: “Ya Allah, perkenankanlah, Engkau menjadikannya termasuk di antara mereka”. Kemudian yang lain berdiri pula dan berkata: Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar Dia berkenan menjadikanku bagian dari mereka. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Engkau telah didahului Ukasyah. (Shahih Muslim No.317)
· Hadis riwayat Sahal bin Saad Radhiyallahu’anhu: Dari Abu Hazim dari Sahal bin Saad bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tujuh puluh ribu orang atau tujuh ratus ribu orang (Abu Hazim ragu mana yang benar antara keduanya) akan masuk surga saling berpegangan, mereka masuk bersama-sama tidak ada yang lebih dahulu dan tidak ada yang paling akhir, wajah mereka cerah seperti bulan purnama. (Shahih Muslim No.322)
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Beberapa umat ditunjukkan kepadaku. Aku melihat seorang nabi bersama sekelompok kecil (tidak lebih dari sepuluh orang), ada lagi nabi yang disertai seorang atau dua orang dan ada pula nabi yang tidak disertai seorang pun. Tiba-tiba ditunjukkan padaku kelompok besar. Aku menyangka mereka adalah umatku. Tetapi lalu dijelaskan: Ini adalah Musa as. dan kaumnya. Lihatlah ke ufuk! Aku memandang ke sana, ternyata ada kelompok besar. Dijelaskan lagi kepadaku: Pandanglah ke ufuk yang lain. Ternyata ada juga kelompok besar. Dijelaskan padaku: Ini adalah umatmu. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu masuk surga tanpa hisab dan siksa. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bangkit dan masuk ke rumahnya. Para sahabat membicarakan siapa yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Sebagian berkata: Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Sebagian berkata: Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah. Mereka saling mengemukakan pendapat masing-masing. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Shallallahu alaihi wassalam. keluar lagi, beliau bertanya: Apa yang kalian bicarakan? Mereka memberitahu, lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jimat/mantera tidak minta dibuatkan jimat, tidak meramalkan hal-hal buruk dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata: Berdoalah kepada Allah semoga Dia berkenan menjadikanku termasuk di antara mereka. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Engkau termasuk di antara mereka. Kemudian yang lain berdiri dan berkata: Berdoalah kepada Allah, semoga Dia berkenan menjadikanku bagian dari mereka. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Engkau telah didahului Ukasyah. (Shahih Muslim No.323)
74. Umat Islam merupakan setengah penghuni surga
· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda kepada kami: Ridakah kalian menjadi seperempat penghuni surga? Kami (para sahabat) bertakbir. Beliau bersabda lagi: Ridakah kalian menjadi sepertiga penghuni surga? Kami pun bertakbir. Lalu beliau kembali bersabda: Sungguh, aku berharap kalian dapat menjadi setengah penghuni surga. Aku akan memberitahukan hal itu kepada kalian. Orang-orang Islam di tengah orang-orang kafir seperti sehelai rambut putih pada sapi hitam, atau seperti sehelai rambut hitam pada sapi putih. (Shahih Muslim No.324)
75. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bahwa Allah berfirman kepada Adam: Keluarkanlah 999 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan) penghuni neraka dari setiap kelipatan seribu
· Hadis riwayat Abu Said Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Allah Taala berfirman: Hai Adam. Beliau menjawab: Aku patuhi panggilan-Mu dan kebaikan ada di tangan-Mu. Allah berfirman: Keluarkanlah ba`tsan naar. Dia (Adam) bertanya: Apa itu ba`tsan naar? Allah berfirman: Setiap kelipatan seribu, keluarkanlah sembilan ratus sembilan puluh orang. Perintah Allah kepada (Adam as.) itu terjadi ketika anak-anak beruban. Dan kandungan setiap wanita yang hamil gugur dan engkau lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka tidak mabuk, tetapi sesungguhnya siksa Allah sangat pedih. Penuturan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tersebut membuat para sahabat merasa khawatir. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah lelaki itu (yang seorang di antara seribu) di antara kami? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Bergembiralah kalian. Karena, dari Yakjuj dan Makjuj seribu, sedangkan dari kalian seorang. Kemudian beliau melanjutkan: Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, aku sangat mendambakan kalian menjadi seperempat penghuni surga. Kami (para sahabat) memuji Allah dan bertakbir. Lalu beliau bersabda lagi, Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, aku mendambakan kalian menjadi sepertiga penghuni surga. Kami memuji Allah dan bertakbir. Kemudian kembali beliau bersabda: Demi Zat yang menguasai diriku. Sungguh, aku mendambakan kalian menjadi separoh penghuni surga. Perumpamaan kalian di tengah-tengah umat lain, adalah bagaikan sehelai rambut putih pada kulit sapi hitam, atau seperti belang pada betis khimar. (Shahih Muslim No.327)

Dalil Halal dan Haram Telah Jelas

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
[رواه البخاري ومسلم]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Catatan :
· Hadits ini merupakan salah satu landasan pokok dalam syari’at. Abu Daud berkata : Islam itu berputar dalam empat hadits, kemudian dia menyebutkan hadits ini salah satunya.
Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
1. Termasuk sikap wara’ adalah meninggalkan syubhat .
2. Banyak melakukan syubhat akan mengantarkan seseorang kepada perbuatan haram.
3. Menjauhkan perbuatan dosa kecil karena hal tersebut dapat menyeret seseorang kepada perbuatan dosa besar.
4. Memberikan perhatian terhadap masalah hati, karena padanya terdapat kebaikan fisik.
5. Baiknya amal perbuatan anggota badan merupakan pertanda baiknya hati.
6. Pertanda ketakwaan seseorang jika dia meninggalkan perkara-perkara yang diperbolehkan karena khawatir akan terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan.
7. Menutup pintu terhadap peluang-peluang perbuatan haram serta haramnya sarana dan cara ke arah sana.
8. Hati-hati dalam masalah agama dan kehormatan serta tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan persangkaan buruk.

Senin, 27 Juni 2011

Lelaki Muslim Haram Memakai Cincin Emas dan Kain Sutera

Saat ini banyak pria yang memakai cincin emas atau kain sutera. Bahkan saat pernikahan, sering mempelai pria dan wanita sama-sama memakai cincin kawin yang terbuat dari emas. Padahal haram bagi lelaki untuk memakai cincin emas. Nanti akan kami sebut dalil-dalilnya.
Ada orang yang berargumen bahwa lelaki boleh memakai cincin emas dengan dalil di bawah serta tak adanya larangan memakai cincin emas dalam Al Qur’an:
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [Al A’raaf 31]
Tapi dari ayat di atas Allah sudah melarang kita untuk tidak berlebihan. Memakai perhiasan emas bagi lelaki adalah hal yang berlebihan. Allah tidak suka.
Kemudian tidak semua hal dijelaskan dalam Al Qur’an. Sebagai contoh, perintah Shalat di Al Qur’an cuma garis besarnya saja. Ada pun rincian cara shalat, dijelaskan oleh utusan Allah: Nabi Muhammad SAW. Karena itu, Hadits Nabi juga harus kita ikuti karena setelah mentaati Perintah Allah, kita juga wajib mentaati perintah RasulNya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An Nisaa’ 59]
Allah melarang pria memakai perhiasan emas karena itu bisa jadi alat berbangga-bangga:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al Hadiid 20]
Ada orang yang berpendapat Emas Putih, Platina, atau Berlian yang lebih mahal daripada Emas halal karena itu bukan emas. Cuma emas yang diharamkan, kata mereka. Meski tidak ada dalil Emas Putih, Platina, atau Berlian itu haram bagi pria, namun Nabi dan sahabat tidak pernah memakainya. Jadi belum tentu halal.
Sebagaimana ayat Al Qur’an yang menyatakan khamar dan judi itu haram, bukan berarti yang haram itu cuma khamar atau judi yang biasa digunakan di Arab saat itu. Tapi setiap yang memabukkan (misalnya Wiskey, Bir, Narkoba, dan Vodka) juga haram karena faktor memabukkannya. Begitu pula meski judi yang dulu biasa dipakai adalah melempar anak panah, itu bukan berarti Kasino atau Judi Bola itu halal. Faktor spekulasi dan mengambil harta orang lain bukan dengan jalan yang hak itulah yang membuatnya haram.
Nah intisari/substansi pengharaman emas bagi pria adalah larangan Bermegahan,  hidup mewah, Berlebihan, Boros, Pamer, dan sebagainya. Ini bukan cuma berlaku bagi emas, tapi bagi perhiasan mahal lainnya seperti arloji Rolex yang harganya bisa mencapai US$ 350.000 (Rp . 3,2 milyar/2000 dinar!) Coba perhatikan dan pahami ayat-ayat di bawah:
“…orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” [Hud 116]
“…Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” [Al Israa' 16]
“Hingga apabila Kami timpakan azab, kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, dengan serta merta mereka memekik minta tolong.” [Al Mu'minuun 64]
“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya” [Saba' 34]
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi Peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” [Az Zukhruf 23]
Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah.” [Al Waqi'ah 45]
Allah membenci ummat Islam yang hidup mewah. Banyak orang-orang kafir yang masuk neraka karena hidup mewah. Pola hidup orang mewah adalah pamer/riya akan hartanya. Lebih menumpuk harta ketimbang membantu orang-orang miskin atau mujahid yang berjuang di jalan Allah. Karena merasa besar/kibir akan kemewahan yang mereka pamerkan, mereka cenderung menganggap dirinya paling hebat dan paling benar serta menolak kebenaran.
Mungkin ada yang berpendapat Nabi dan para Sahabat seperti Abu Bakar, Umar, dan Usman itu kaya. Mereka memang memiliki banyak rezeki atau uang, tapi mereka lebih senang mensedekahkannya untuk jalan Allah dan Fakir Miskin. Nabi hidupnya sangat sederhana dan tidur di atas pelepah kurma. Abu Bakar ra menyumbangkan seluruh hartanya untuk jihad di jalan Allah. Umar menyumbang separuh, sedang Usman menyumbang sepertiga dari hartanya. Adakah para aghniya atau orang-orang kaya Muslim sekarang seperti mereka?
Jauh. Kebanyakan justru seperti orang-orang kaya/mewah yang tercantum dalam Al Qur’an.

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. ” [Al Israa' 26-27]
Janganlah pikiran kita lalai karena perhiasan dunia:
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [Al Kahfi 28]
Seorang pria hendaknya menafkahkan hartanya seperti emas di jalan Allah. Bukan cuma jadi hiasan:
“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” [At Taubah 35]
Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah menjelaskan ajaran Islam dan memberi contoh cara hidup Islami.
Pada mulanya memang cincin emas tidak dilarang. Namun setelah itu Nabi Muhammad membuangnya. Para sahabat juga ikut membuang cincin emas mereka:
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Bahwa Rasulullah saw. menyuruh untuk membuatkan cincin dari emas. Beliau meletakkan mata cincinnya pada bagian dalam telapak tangan bila beliau memakainya. Orang-orang pun berbuat serupa. Kemudian suatu ketika, beliau duduk di atas mimbar lalu mencopot cincin itu seraya bersabda: Aku pernah memakai cincin ini dan meletakkan mata cincinnya di bagian dalam. Lalu beliau membuang cincin itu dan bersabda: Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi untuk selamanya! Orang-orang juga ikut membuang cincin-cincin mereka. (Shahih Muslim No.3898)
Nabi Muhammad jelas melarang kaum pria (wanita boleh) memakai cincin emas:
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Nabi saw., beliau melarang memakai cincin emas. (Shahih Muslim No.3896)
Oleh karena itu, pada pernikahan, sebaiknya mempelai pria jangan memakai cincin emas karena itu haram. Dosa. Sebaiknya pakai cincin perak, atau tidak pakai cincin sama sekali.
Nabi Muhammad SAW juga melarang para pria untuk memakai pakaian sutera. Oleh karena itu janganlah pakai pakaian sutera seperti Batik Sutera, Dasi Sutera, atau Kaos Kaki yang terbuat dari Sutera:
Hadis riwayat Barra’ bin Azib ra., ia berkata:
Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk melaksanakan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Beliau memerintahkan kami menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin (mengucap yarhamukallah), melaksanakan sumpah dengan benar, menolong orang yang teraniaya, memenuhi undangan dan menyebarkan salam. Beliau melarang kami dari cincin atau bercincin emas, minum dengan wadah dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qas (terbuat dari sutera) serta mengenakan pakaian sutera baik yang tebal dan tipis. (Shahih Muslim No.3848)
Hadis riwayat Hudzaifah bin Yaman ra.:
Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian minum dalam wadah emas dan perak dan jangan mengenakan pakaian sutera sebab pakaian sutera itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.3849)
Dari Abu Musa Al Asy’ary ra bahwasannya Nabi Muhammad saw bersabda, “Memakai kain sutera dan emas itu haram bagi umatku yang laki-laki; dan halal bagi umatku yang perempuan.” (HR. At Turmudzy)
Dari Umar bin Khattab ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: “Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera, karena sesungguhnya orang yang telah memakainya di dunia maka nanti di akhirat tidak akan memakainya lagi.” (HR. Bukhari Muslim)
Dari Anas ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: “Barangsiapa yang memakai kain sutera di dunia maka ia tidak akan memakainya nanti di akhirat.” (HR. Bukhari Muslim)
Nabi saw mengambil sutera dan dipegangnya dengan tangan kanan. Lalu beliau mengambil emas dan memegangnya dengan tangan kiri. Kemudian beliau bersabda, “Dua macam perhiasan ini haram bagi kalangan laki-laki umatku.” (HR Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, Ibn Hibban, dan Ibn Majah).
Perintah Nabi di atas sangat jelas. Mendurhakai perintah Nabi, akan mengundang azab Allah yang keras:
“Dan berapalah banyaknya penduduk negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan” [Ath Thalaaq 8]

Hukum Pancung (Qishash) untuk Pembunuh dan Pemerkosa

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh…” [Al Baqarah 178]
Mungkin kita lupa jika hukum pancung itu cuma dikenakan bagi pembunuh. Jika tidak ingin dipancung, jangan membunuh. Ini memang beda dgn Indonesia di mana orang jika membunuh paling 2-3 tahun sudah keluar dari penjara dan bisa membunuh lagi.
Demikian pula pemerkosa. Jika menurut hukum Islam para pemerkosa dihukum mati sehingga tidak bisa memperkosa lagi, di negara-negara yang memakai hukum buatan manusia / warisan penjajahnya yang kafir tidak begitu. Para pemerkosa paling hukumannya cuma 6 bulan penjara. Setelah itu bebas memperkosa lagi.
Mungkin kita beranggapan hukum Qishaash itu kejam/sadis. Memang kejam/sadis bagi pembunuh/pemerkosa. Jadi jika tidak ingin kena hukum Qishaash, caranya gampang. Jangan membunuh dan jangan memperkosa. Jadi hidup lebih aman. Orang-orang yang tidak berdosa terhindar dari kekejaman para pembunuh dan pemerkosa:
“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” [Al Baqarah 179]
Ternyata dengan hukum Islam yang keras terhadap penjahat, para penjahat jadi takut berbuat jahat sehingga masyarakat jadi aman. Menurut Data INTERPOL, angka pembunuhan di AS adalah 5,51 dalam 100.000 penduduk. Sementara Jepang 1,1 dan Saudi Arabia yang memakai hukum pancung hanya 0,71. Itu pun sebagian pembunuh berasal dari luar negeri seperti TKI Indonesia yang kurang paham kalau hukuman membunuh adalah dipancung. Angka perkosaan di AS 32,05, Jepang 1,78, dan Saudi 0,14 per 100.000 penduduk. Sementara angka perampokan di AS 144,92, Jepang 4,08, dan Saudi 0,14. Bahkan untuk penganiayaan berat di mana korban selain luka juga bisa cacat fisik, angkanya jauh berbeda. Di AS 323,62, Jepang 23,78, sementara di Saudi Arabia hanya 0,12.
Jelas bahwa Hukum Allah jauh lebih baik daripada hukum jahiliyyah buatan manusia Yahudi dan Nasrani atau pun yang lainnya:
„Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al Maa-idah:50]
Hukum Allah berhasil mengurangi angka kejahatan. Sementara hukum penjara buatan manusia, selain merampas dana untuk fakir miskin guna pembangunan penjara, makanan bagi para penjahat, serta gaji para penjaganya, juga menimbulkan kejahatan lainnya. Homoseksualitas karena suami dipisah dari istrinya, peredaran narkoba, dan juga kejahatan terorganisir/mafia marak terbentuk dari penjara.
Janganlah kita mengikuti hukum buatan kaum Yahudi dan Nasrani dan meninggalkan hukum Allah. Jika begitu, niscaya kita jadi orang yang zhalim dan dimurkai Allah:
“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” [Al Maa-idah 47]
“…Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Al Baqarah 229]
“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” [Al Maa-idah 49]
Cuma memang hukum Islam harus ditegakkan secara adil dan tidak pandang bulu. Setiap orang, entah itu kaya atau miskin, jauh atau dekat, bahkan jika anak kita sendiri pun harus dihukum jika mereka salah.
Seorang wanita di jaman Rasulullah Saw sesudah fathu Mekah telah mencuri. Lalu Rasulullah memerintahkan agar tangan wanita itu dipotong. Usamah bin Zaid menemui Rasulullah untuk meminta keringanan hukuman bagi wanita tersebut. Mendengar penuturan Usamah, wajah Rasulullah langsung berubah. Beliau lalu bersabda : “Apakah kamu akan minta pertolongan untuk melanggar hukum-hukum Allah Azza Wajalla?” Usamah lalu menjawab, “Mohonkan ampunan Allah untukku, ya Rasulullah.” Pada sore harinya Nabi Saw berkhotbah setelah terlebih dulu memuji dan bersyukur kepada Allah. Inilah sabdanya : “Amma ba’du. Orang-orang sebelum kamu telah binasa disebabkan bila seorang bangsawan mencuri dibiarkan (tidak dihukum), tetapi jika yang mencuri seorang yang miskin maka dia ditindak dengan hukuman. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya. Apabila Fatimah anak Muhammad mencuri maka aku pun akan memotong tangannya.” Setelah bersabda begitu beliau pun kembali menyuruh memotong tangan wanita yang mencuri itu. (HR. Bukhari)
Hukum pancung juga hanya dikenakan bagi orang-orang yang zhalim. Misalnya dikenakan pada perampok yang membunuh korbannya atau pemerkosa.
Sebaliknya bagi orang yang membunuh karena membela diri, misalnya terpaksa membunuh karena akan diperkosa atau dirampok rumahnya, seharusnya bebas dari hukum. Mereka harus bebas dari hukuman pancung, diat, penjara, dan segala macam hukuman lainnya.
“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.” [Asy Syura 39]
“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.” [Asy Syuura 41]
Orang yang membunuh secara tidak sengaja (misalnya menembak burung, ternyata kena orang) maka tidak dikenakan hukuman pancung:
“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat (denda) yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [An Nisaa' 92]
Tapi jika membunuh dengan sengaja tanpa alasan yang benar, maka neraka balasannya:
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [An Nisaa' 93]

Kamis, 23 Juni 2011

Arasy

'Arasy atau 'Arsy (Arab: عَرْش‎) merujuk kepada tempat Allah bersemayam menurut Al-Quran.
"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.."
- Surah Ar-Ra'd: 2
Bagaimanapun menurut Islam, Allah itu tidak sama dengan makhluk. Bila tidak sama dengan makhluk maka cara dia bersemayam juga tidak sama dengan makhluk. Bagaimana cara dia bersemayam hanya Allah sahaja yang tahu.
Dalam Al Quran terdapat sebanyak tujuh tempat Allah Taala menyebutkan yang Allah Taala bersemayam di atas arasy.
  1. Surah Al A'raf ayat 54
  2. Surah Yunus ayat 3
  3. Surah Ar Ra'd ayat 3
  4. Surah Taha ayat 5
  5. Surah Al Furqan ayat 59
  6. Surah As Sajdah ayat 4
  7. Surah Al Hadid ayat 4

Isi kandungan

[sorokkan]

[sunting] Etimologi

'Arasy merupakan bentuk mashdar dari kata kerja ‘arasya – ya‘risyu – ‘arsyan (عَرَشَ يَعْرِشُ عَرْشًا) yang bermaksud bangunan, singgahsana, istana atau takhta. Di dalam al-Quran, perkataan ‘Arasy itu disebut sebanyak 33 kali. Kata ‘Arasy mempunyai banyak maksud, tetapi pada umumnya yang dimaksudkan adalah singgahsana atau takhta Tuhan.
Tentang pengertian ‘Arasy, ulama memberikan penjelasan yang berbeza-beza. Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ‘Arasy merupakan ”pusat pengendalian segala persoalan makhluk-Nya di alam semesta”. Penjelasan Rasyid Rida itu antara lain didasarkan pada Al Qur'an:
...kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. (Yunus 10:3)

[sunting] Letak 'Arasy

'Arasy terletak di atas syurga Firdaus, Nabi Muhammad bersabda kepada sahabat Abu Hurairah yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim:
“Apabila engkau memohon kepada Allah, maka mohonlah kepadanya Syurga Firdaus. Sesungguhnya ia (adalah) Syurga yang paling utama dan paling tinggi. Di atasnya terdapat ‘Arasy Allah yang Maha Pengasih...”
Masih diriwayatkan dari Ibnu Abi 'Ashim, Nabi Muhammad bersabda:
“Sesungguhnya ‘Arasy sebelumnya berada di atas air. Setelah Allah menciptakan langit (yang 7), ‘Arasy itu ditempatkan di langit yg ke-7. Dia jadikan awan sebagai saringan untuk hujan. Apabila tidak dijadikan seperti itu, tentu bumi akan tenggelam terendam air.”

[sunting] Keagungan 'Arasy

Malaikat pernah ada yang melihat ‘Arasy dengan segala keagungan yang dimilikinya. Lalu, Allah berfirman kepada malaikat tersebut, "Sesungguhnya Aku telah menjadikan engkau memiliki kekuatan yang sebanding dengan kekuatan 7,000 malaikat." Malaikat itu diberikan 70,000 sayap. Kemudian, Allah menyuruh malaikat itu terbang. Malaikat itu pun terbang dengan kekuatan penuh dan sayap yang diberikan Allah ke arah mana saja yang dikehendaki Allah. Sesudah itu, malaikat tersebut berhenti dan memandang ke arah ‘Arasy. Tetapi, ia merasakan seolah-olah ia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya terbang semula. Hal ini memperlihatkan betapa besar dan luasnya ‘Arasy Allah itu.
Nabi Muhammad bersabda: "Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang Sahara yang luas, dan keunggulan 'Arasy atas Kursi seperti keunggulan padang Sahara yang luas itu atas cincin tersebut."

[sunting] Perbezaan Pendapat Tentang 'Arasy

Di dalam perbincangan para ulama, tentang ‘Arasy ini selalu banyak pendapat. Para ulama memperdebatkan apakah ‘Arasy itu suatu nonmateri (nonfisik) atau materi (fizik). Dalam hal ini ada tiga pendapat yang berbeda:
  • Mu'tazilah berpendapat bahawa perkataan ‘Arasy di dalam al-Quran harus dimaksudkan dan difahami sebagai maksud metaforis (majazi). Jika dikatakan Tuhan bersemayam di ‘Arasy, maka maksudnya ‘Arasy di sini adalah kekuasaan Tuhan. Tuhan merupakan zat yang nonmateri, karenanya mustahil Dia berada pada tempat yang bersifat materi.
  • Mujassimah pendapat golongan ini bertolak belakang dengan pendapat pertama. Menurut mereka, kata ‘Arasy harus dipahami sebagaimana adanya. Kerana itu, mereka mengartikan ‘Arasy sebagai sesuatu yang yang bersifat fizik atau materi. Mereka memiliki paham antropomorfisme.
  • Asy'ariyah berpendapat yang menyatakan bahawa ‘Arasy dalam maksud takhta atau singgasana harus diyakini keberadaannya, kerana kitab Al-Quran sendiri bermaksudkannya demikian.

Bukti Al Quran Datang Dari Allah

Mengenai bukti bahawa Al-Quran itu datang dari Allah, dapat dilihat dari kenyataan bahawa Al-Quran adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Dalam menentukan dari mana asal Al-Quran, akan kita dapatkan tiga kemungkinan.
  • Pertama, kitab itu merupakan karangan orang Arab.
  • Kedua, karangan Muhammad SAW.
  • Ketiga, berasal dari Allah SWT saja.
Tidak ada lagi kemungkinan selain dari yang tiga ini. Sebab Al-Quran adalah khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya.
Kemungkinan pertama yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah karangan orang Arab merupakan kemungkinan yang tertolak. Dalam hal ini Al-Quran sendiri telah menentang mereka untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam ayat :
قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ
"Katakanlah: 'Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya" (Surah Hud 13).
Di dalam ayat lain :
قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ
"Katakanlah: ('Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cubalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya" (Surah Yunus 38).
Orang-orang Arab telah berusaha keras mencubanya, akan tetapi tidak berhasil. Ini membuktikan bahawa Al-Quran bukan berasal dari perkataan mereka. Mereka tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, ada tentangan dari Al-Quran dan usaha dari mereka untuk menjawab tentangan itu. Kemungkinan kedua yang mengatakan bahwa Al-Quran itu karangan Nabi Muhammad s.a.w., adalah kemungkinan yang juga tidak dapat diterima oleh akal. Sebab, Nabi Muhammad s.a.w. adalah orang Arab juga. Bagaimanapun cerdiknya, tetaplah ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah satu anggota dari masyarakat atau bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Nabi Muhammad s.a.w. yang juga termasuk salah seorang dari bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Oleh kerana itu, jelas bahawa Al-Quran itu bukan karangan Nabi Muhammad s.a.w.. Terlebih lagi dengan banyaknya hadis shahih yang berasal dari Nabi Muhammad s.a.w. --yang sebagian malah diriwayatkan lewat cara yang tawatur, yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila setiap hadis dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al-Quran, maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasanya. Padahal Nabi Muhammad s.a.w., disamping selalu membacakan setiap ayat-ayat yang diterimanya, dalam waktu yang bersamaan juga mengeluarkan hadis. Namun, ternyata keduanya tetap berbeza dari segi gaya sasteranya. Bagaimanapun kerasnya usaha seseorang untuk menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap saja akan terdapat kemiripan antara gaya yang satu dengan yang lain. Kerana semua itu merupakan bagian dari ciri khasnya dalam berbicara. Oleh kerana memang tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al-Quran dengan gaya bahasa hadis, bererti Al-Quran itu bukan perkataan Nabi Muhammad s.a.w. Sebab, pada masing-masing keduanya terdapat perbezaan yang tegas dan jelas. Itulah sebabnya tidak seorang pun dari bangsa Arab, orang-orang yang paling tahu gaya dan sastera bahasa arab, pernah menuduh bahwa Al-Quran itu perkataan Nabi Muhammad s.a.w. atau mirip dengan gaya bicaranya. Satu-satunya tuduhan yang mereka lontarkan adalah bahawa Al-Quran itu dicipta Nabi Muhammad s.a.w. dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Tuduhan ini pun telah ditolak keras oleh Allah SWT dalam firman-Nya :
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ
"(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata: 'Bahawasanya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa 'ajami (bukan-Arab), sedangkan Al-Quran itu dalam bahasa arab yang jelas" (Surah An-Nahl 103).
Jika telah terbukti bahwa Al-Quran itu bukan karangan bangsa Arab, bukan pula karangan Nabi Muhammad s.a.w., maka sesungguhnya Al-Quran itu adalah firman Allah, kalamullah, yang menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya.

[sunting] Nama-nama al-Quran

  • al-Kitaab (اﻟﻛتاب)bermaksud sebuah kitab berdasarkan firman Allah:
Alif, Laam, Miim. Kitab al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya (tentang datangnya dari Allah dan tentang sempurnanya); ia pula menjadi petunjuk bagi orang-orang Yang (hendak) bertaqwa; (surah al-Baqarah 2:1-2)
  • al-Furqaan (ﺍﻟﻔﺮﻗﺎﻥ) bermaksud pemisah hak dan batil sebagaimana firman Allah:
Maha berkat Tuhan Yang menurunkan al-Furqaan kepada hambaNya (Muhammad), untuk menjadi peringatan dan amaran bagi seluruh penduduk alam. (surah al-Furqaan 25:1)
  • adz-Dzikr (اﻟذﻛﺮ) bermaksud peringatan berdasarkan firman Allah:
Sesungguhnya Kamilah Yang menurunkan al-Quran, dan Kamilah Yang memelihara dan menjaganya. (surah al-Hijr 15:9)
  • at-Tanzil (ﺍﻟﺘﻨﺰﻳﻞ) bermaksud penurunan. Nama ini diambil sempena firman Allah:
Dan Sesungguhnya Al-Quran (yang di antara isinya kisah-kisah Yang tersebut) adalah diturunkan oleh Allah Tuhan sekalian alam. (surah asy-Syuara 26:192)

[sunting] Sifat al-Quran

  • an-Nuur bermaksud cahaya yang menerangi kegelapan. Al-Quran disifatkan sebagai nur (cahaya) kerana ia memberikan cahaya keimanan kepada orang yang berada di dalam kegelapan serta kekufuran. Selain itu, al-Quran juga menjadi cahaya yang menerangi jiwa orang yang selalu membacanya dan menghayati isi kandungannya. Firman Allah:
Wahai sekalian umat manusia! Sesungguhnya telah datang kepada kamu: Bukti dari Tuhan kamu, dan Kami pula telah menurunkan kepada kamu (Al-Quran sebagai) Nur (cahaya) Yang menerangi (segala apa jua Yang membawa kejayaan di dunia ini dan kebahagiaan Yang kekal di akhirat kelak). (surah an-Nisaa' 4:174)
  • al-Mubiin bermaksud menerangkan sesuatu. Al-Quran disifatkan sebagai penerang kerana ia menghuraikan ajaran Islam kepada seluruh umat. Firman Allah:
Wahai ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami (Muhammad, s.a.w) Dengan menerangkan kepada kamu banyak dari (keterangan-keterangan dan hukum-hukum) Yang telah kamu sembunyikan dari Kitab suci, dan ia memaafkan kamu (dengan tidak mendedahkan) banyak perkara (yang kamu sembunyikan). Sesungguhnya telah datang kepada kamu cahaya kebenaran (Nabi Muhammad) dari Allah, dan sebuah Kitab (Al-Quran) Yang jelas nyata keterangannya. (surah al-Maa'idah 5:15)
  • al-Huda bermaksud petunjuk. Al-Quran disifatkan sebagai petunjuk kerana ia menunjukkan jalan yang lurus kepada umat manusia. Firman Allah:
Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Al-Quran Yang menjadi nasihat pengajaran dari Tuhan kamu, dan Yang menjadi penawar bagi penyakit-penyakit batin Yang ada di Dalam dada kamu, dan juga menjadi hidayah petunjuk untuk keselamatan, serta membawa rahmat bagi orang-orang Yang beriman. (surah Yunus 10:57)
  • ar-Rahmah bermaksud kerahmatan. Allah menyifatkan al-Quran sebagai rahmat kerana ia membawa rahmat kepada orang Mukmin yang sentiasa membaca, mempelajari dan mengamalkan isi kandungannya. Firman Allah:
Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Al-Quran Yang menjadi nasihat pengajaran dari Tuhan kamu, dan Yang menjadi penawar bagi penyakit-penyakit batin Yang ada di Dalam dada kamu, dan juga menjadi hidayah petunjuk untuk keselamatan, serta membawa rahmat bagi orang-orang Yang beriman. (surah Yunus 10:57)

Rabu, 22 Juni 2011

Hakikat Ilmu, Fiqh dan Keutamaannya

Keduanya, yakni Ilmu dan Fiqih mempunyai keutamaan. Pengarang mendahulukan hakikat ilmu lalu menjelaskan keutamaannya untuk mengingatkan tujuan kitab ini. Yang pertama menjelaskan keutamaan Ilmu dan Fiqih, untuk mendorong para penuntut ilmu agar tekun mempelajarinya. Kedua, menerangkan hakikat keduanya agar ia tidak tetap mencari kebodohan. Rasulullah s.a.w. bersabda :

طَلَبُ اْلعِلْمَ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ


Artinya :
"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat."

Memulai dengan hadits syarif karena mengharapkan keberkahan. Maksudnya bahwa menuntut ilmu itu hukumnya fardlu 'ain bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan yang mukalaf. Seperti ilmu yang membebankan untuk menerangkan makrifat kepada Allah Ta'ala dengan meng-Esakan-Nya dan mengetahui sifat-Nya serta membenarkan adanya Rasul. Sebab hal ini tidak boleh bertaklid, berdasarkan firman Allah Ta'ala :
Artinya :
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah." (QS. 47 Muhammad : 19).
Dan firman-Nya:
Artinya :
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar."
(QS. 41 Fushshilat : 53).




Setiap muslim yang baligh baik fakir maupun kaya juga diwajibkan mempelajari ilmu shalat dan bersuci sebagaimana diwajibkannya mempelajari ilmu zakat dan haji. Adapun sampai pada tingkat ijtihad dan fatwa maka hukumnya fardlu kifayah. Jika salah seorang dari ahli negaranya telah melaksanakannya, maka sudah cukup dan gugurlah yang lainnya dan mereka boleh bertaklid (mengikuti), dan jika mereka diam semuanya maka, mereka berdosa semua. Demikian sebagaimana dalam syarah Mashabih.

Dari pengertian ini maka berkatalah pengarang kitab : "Ketahuilah, bahwasanya setiap muslim dan muslimat tidaklah diwajibkan mempelajari ilmu. Tetapi ia diwajibkan mempelajari ilmu yang akan dilakukan, yaitu Ilmu Ushuluddin dan Ilmu Fiqih, yang ada hubungannya dengan ihwal manusia. Seperti kufur, iman, shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya. Sebagaimana dikatakan sebagian Ulama :
Artinya :

'Ilmu yang lebih utama adalah ilmu yang akan diamalkan, dan amal yang lebih utama adalah memelihara perbuatan (dari sia-sia dan kerusakan)."

Setiap muslim diwajibkan mempelajari ilmu yang akan ia alami dalam shalatnya seperu kerusakan dan kemaslahatan, atau yang akan menimpa dirinya seperti sakit, sehat, bepergian dan di rumah yang ada hubungannya dengan cara melaksanakan kewajiban shalatnya. Karena orang Islam diwajibkan shalat, maka ia diwajibkan mengetahui ilmu yang berhubungan dengan shalat, agar shalatnya dapat sempurna dan sah. Seperti mengetahui rata cara melakukan shalat dan syarat rukunnya.
Di samping itu, hendaknya memelihara bacaan-bacaannya dengan benar, baik berupa ayat-ayat yang panjang maupun tiga ayat pendek yang difardlukan. Sebab jika bacaannya salah menjadikan shalatnya tidak sah. Dengan demikian ia dianggap belum memenuhi kewajibannya. Maka dari itu, karena orang Islam diwajibkan melakukan shalat, maka setiap muslim wajib mengetahui ilmunya. Perantara melakukan ibadah fardlu adalah wajib dilakukan, seperti melakukan wudlu untuk shalat. Maka melakukan perantara untuk memenuhi kewajiban hukumnya wajib. Demikian pula untuk mengetahui kefardluan dan kewajiban adalah wajib. Begitu pula wajibnya mengetahui masalah puasa dan zakat jika ia telah memiliki harta sebagai syarat untuk zakat, kemudian kewajiban haji bila telah memenuhi syarat, dan wajib mempelajari ilmu muamalat tentang jual beli jika ia sebagai pedagang atau pengusaha. Maksudnya setiap muslim wajib mempelajari hal-hal yang akan tetiadi dalam transaksi jual beli, agar ia terhindar dari riba, syubhat, kekeliruan dan kerusakan.

Diriwayatkan, bahwa Syekh Muhammad bin Hasan rahimahullah, suatu ketika menerima kunjungan seorang murid yang mengajukan permohonan agar beliau mengarang kitab tentang "Zuhud". Jawab beliau : "Aku telah mengarang kitab tentang jual beli, yang isinya mengatur sah dan rusaknya jual beli." Maksudnya, yang dinamakan Zuhud adalah seorang yang menjaga diri dari perkara yang boleh melakukannya tetapi dibenci. Zuhud adalah meninggalkan keinginan hawa nafsunya, dan ini dapat terwujud dalam memelihara perkara-perkara syubhat. Maka tidak mustahil jika kitab Zuhud dikategorikan kitab jual beli.

Demikian pula bagi setiap muslim diwajibkan mempelajari ilmu bermasyarakat, dan teori-teori dalam bekerja agar dapat terpelihara dari larangan agama. Sebab siapa yang akan melakukan suatu pekerjaan, maka ia diwajibkan mengetahui ilmunya dan memelihara diri dari larangan agama.

Setiap muslim juga diwajibkan mengetahui ihwal hatinya untuk bertawakkal, kembali dan takut kepada Allah serta rela akan hukum-hukumNya dan ketetapan-Nya. Karena hal itu akan terjadi dalam segala keadaan, tidak terbatas pada keadaan tertentu saja. Maka ia wajib mengetahui ilmunya, karena akan menyangkut setiap pribadi muslim. Tanpa demikian maka hukumnya fardlu kifayah, yaitu jika salah seorang sudah ada yang melakukannya maka yang lain menjadi gugur semua.

Adapun kemuliaan ilmu siapapun tidak akan menyangsikannya. Sebab ia merupakan sifat pemberian Allah yang diberikan khusus bagi umat manusia. Karena sifat-sifat selain ilmu, baik manusia maupun seluruh binatang juga sama memiliki. Seperti sifat pemberani, kuat, sosial, giat dan sebagainya.

Dengan ilmu, Allah menampakkan ketinggian derajat Nabi Adam a.s. melebihi derajat para malaikat, sehingga para malaikat diperintahkan bersujud menghormati kepada Adam. Malaikat merupakan lafadh jamak dari "Malakun." Mereka sebagai perantara antara Allah dengan para Rasul-Nya. Terdapat perbedaan pendapat tentang hakikat mereka. Para Mutakallimin berpendapat, bahwa malaikat adalah jisim yang halus (makhluknon fisik) yang dapat membentuk rupa dengan berbagai macam bentuk. Ini menunjukkan bahwa para Rasul dapat melihat mereka. Mereka mempunyai kekuatan dalam melaksanakan tugasnya, sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla mensifati mereka dalam firman-Nya :

Artinya :
"Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya
(QS. 21 Al Anbiya' : 20).

Mereka pada tingkatan yang tinggi lagi dekat-dekat, mengatur urusan dari langit ke bumi, sesuai berlakunya pada mereka kalam qadla dan qadar. Mereka mengatur urusan dunia. Mereka ada yang di langit dan ada yang turun di bumi karena banyaknya. Adam lebih utama dari para malaikat tersebut dalam tafsir firman Allah Ta'ala :

Artinya:
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para malaikat     (QS. 2 Al Bagarah : 31).

Allah menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Sujud menurut bahasa artinya merendahkan diri. Dan menurut istilah syara', adalah meletakkan dahi pada bumi dengan maksud beribadah. Adapun Para malaikat disuruh bersujud kepada Adam as. maksudnya untuk menghormat dan memuliakan karena mengagungkan kepadanya dan menunaikan hak belajar.

Sesungguhnya hanya dengan kemuliaan ilmulah menjadi perantara untuk bertakwa, yang menurut urf syara' adalah sempurnanya memelihara diri dari sesuatu yang membahayakan di akhirat. Menurut Umar bin Abdul Aziz bahwa takwa adalah meninggalkan segala yang diharamkan (dilarang) oleh Allah Ta'ala dan melaksanakan apa yang diwajibkan. Menurut sebagian Ulama, bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang meninggalkan segala Yang tidak ada kebaikannya karena merasa takut dari terjerumus padanya. Sementara Ulama menjelaskan, dari takwa itu terdapat lima balasan, tidak akan memperolehnya orang yang tidak melepaskannya, yaitu :

Merasa kesulitan atas kenikmatan, merasa lemah atas kekuatan, merasa hina atas kemuliaan, merasa payah atas kesenggangan, dan merasa mati atas kehidupan.

Dalam kenyataan takwa itu ada tiga tingkatan :
  1. Takwa dalam memelihara diri dan siksaan yang dikekalkan atas kekufuran. Dimana Allah akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih. Sedangkan Allah menurunkan ketenangan kepada orang-orang mukmin dan mewajibkan mereka kalimat takwa. Sebagaimana firman-Nya:


Artinya :
"Dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya " (QS. 48 Al Fath : 26).


     2. Menjauhi segala perbuatan dosa, baik untuk memperbuat atau meninggalkan termasuk dosa-dosa kecil bagi suatu kaum. Hal ini yang dikenal sebagai taqwa menurut syara', sebagaimana firman Allah Ta'ala :


Artinya :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah  Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. 7 Al A’raf : 96).


     3. Memaha Sucikan Allah dalam setiap gerak-gerik dan perbuatan dari rahasia kebenaran Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, dan beribadat kepada-Nya dengan penuh ketekunan. Inilah takwa hakiki yang diperintahkan Tuhan

Artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, bertakqwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya ; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. 3 Ali Imran : 102).

Dengan bertakwa maka seseorang berhak memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan kebahagiaan abadi. Kebahagiaan abadi merupakan sifat kemuliaan. Ilmu menjadi perantara untuk bertakwa, karena ketakwaan itu dapat terealisir hanyalah dengan ilmu. Dengan ilmu seseorang dapat memelihara diri dari larangan Allah Ta'ala, maka mungkinkah tanpa pengetahuan ia dapat memelihara diri daripadanya ?

Dan jika takwa itu dapat berhasil dari menjauhi larangan Allah Ta'ala, maka ia akan memperoleh kebahagiaan di negeri yang abadi mencapai tingkatan tertinggi dan puncak kenikmatan di Syurga berjumpa Allah, Tuhan Pemberi segala kenikmatan lagi Merajai. Semoga Allah memudahkannya lantaran memuliakan Nabi-Nye yang diutus di akhir zaman.


Artinya:
"Belajarlah, karena ilmu itu sebagai hiasan bagi ahlinya, merupakan kelebihan dan tanda dari segala perbuatan terpuji."

Kata "Belajarlah" maksudnya perintah untuk belajar. Kata "Hiasan bagi ahlinya" maksudnya merupakan hiasan bagi orang yang berilmu. Dalam, interpretasi, bahwa perkara yang paling utama setelah tauhid hendaknya seseorang mempelajari Ilmu Fiqih. Karena Allah Ta'ala memperlihatkan para malaikat dengan melebihkan Adam as. dengan Ilmu Fiqih. Maka Allah berfirman : "Dan Dia mengajarkan Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat." Allah mengajarkan Bahasa Arab termasuk ilmu terpenting dari berbagai ilmu, karena segala persoalan pokok dan cabang-cabangnya membutuhkannya. Hal ini telah ma'tsur dari Umar dan Ali r.a. Diceritakan, bahwasanya seorang Arab mendengar seorang lelaki membaca firman Allah Ta'ala :


Artinya :
"Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. " (QS. 9 At Taubah : 3).

Rasuluh dibaca kasrah "Wa Rasuulih" sehingga memberi pengertian bahwa "Allah berlepas diri dari orang-orang musyrikin dan Rasul-Nya", maka ia berkata : Jika Allah berlepas diri dari Rasul-Nya, maka saya juga berlepas diri daripadanya. Lalu lelaki itu pergi kepada Umar r.a. dan orang Arab Badui itu menceritakan bacaannya. Maka dihadapan Umar r.a. memerintahkannya untuk mempelajari bahasa Arab, dan Ali r.a. mengatakan : "Fa'il itu Rafa', Maf’ul itu Nashab, dan Mudhaf Ilaih itu dibaca Jer    "

Adapun belajar menulis dan mempelajari tulisan halus dan indah adalah
lah diperbolehkan. Sebab Allah Ta'ala membidangkan hal itu sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya:


Artinya :
"Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. " (QS. 68 Al Qalam : 1). Dan firman Allah Ta'ala:



Artinya :
"Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (tulis baca).” (QS. 96 Al Alaq : 4).

Menulis halus dan indah itu dimakruhkan mempelajarinya bagi kaum wanita, berdasarkan sabda Nabi s.a.w. :


Artinya :   
“janganlah kamu  mengajarkan tulisan halus kepada para wanita."

Sementara Ulama berkata : "Ketahuilah, bahwa tulisan halus dan indah itu adalah gaya kesopanan dan sebagian daripada ilmu." Sebagian para Ahli Tafsir berkata tentang firman Allah Ta'ala.
Yang dimaksud adalah tulisan halus dan indah. Fudhail bin Suhail berkata : "Termasuk kebahagiaan seseorang jika ia memiliki tulisan indah dan terampil bicara”. Penya'ir mengatakan:


Artinya :
  • Pelajarilah pedoman menulis halus dam indah wahai orang yang berpendidikan ; karena tulisan indah itu merupakan hiasan bagi pendidik.
  • Jika  engkau punya harta, maka  tulisan indahmu merupakan hiasan; dan  jika engkau membutuhkan uang maka itu sebaik-baik penghasilan.

Artinya :
Jadilah kamu seorang yang memperoleh faidah menambah ilmu setiap hari, dan berenanglah kamu dalam lautan faidah."


Kata "Mustafidan" sebagai khabar "Kun", dan "Kulla Yaumin" menjadi dlaraf sedangkan "Ziyadatan" menjadi maf'ul bihi dari kata "Mustafidan." Sedangkan kata "Wasbah" adalah fi'il amar yang athaf pada "Kun" yaitu perintah berenang, yakni berangkat di permukaan air. Adapun "Fi Buhuril Fawa-idi = dalam lautan faidah" maksudnya dalam mencari faidah seperti mencari mutiara di lautan. Artinya hendaknya kamu selalu mencari tambahnya faidah ilmu pengetahuan setiap hari dan berenanglah seperti ikan berenang di laut merah dalam mencari faidah. Sebab Nabi yang paling utama yaitu Muhammad s.a.w. dalam do'anya beliau membaca : "Ya Tuhanku, tarnbahkanlah ilmu padaku." Hal ini karena Allah Ta'ala memerintahkannya dalam firman-Nya:


Artinya :
"Dan katakanlah : "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. 20 Thalia : 114).


Jadi Nabi adalah manusia yang paling alim meliputi ilmu orang-orang terdahulu dan terkemudian. Maka bagaimana anda merasa cukup wahai para pelajar dan santri dengan ilmu yang telah anda peroleh ? Padahal ilmu anda itu dibandingkan dengan ilmunya ibarat setetes air laut.


Artinya :
  • "”Belajarlah Ilmu Fiqih, karena Fiqih itu merupakan penuntun yang paling utama ; untuk berbuat kebaikan, takwa dan tujuan yang lurus."

Kata 'Tafaqqah" itu fi'il amar (kata kerja perintah) dari wazan "Tafa'al", artinya : "Jadilah kamu orang berusaha menghasilkan Ilmu Fiqih. Sebab ia penuntun dan alasan yang paling utama." Untuk berbuat kebaikan, takwa dan tujuan yang lurus, maksudnya bahwa Ilmu Fiqih itu bertujuan adil dan jenis keadilan yang paling adil. Sebab Fiqih merupakan ilmu yang menjelaskan aturan-aturan syariat dan hukum-hukum yang secara pasti pada keduanya tidak mengandung kesesatan, sebab is berupa hukum-hukum Allah secara pasti, Maha Suci Allah dari kesesatan dan kelemahan sifat bagiNya, sedangkan Allah Ta'ala Maha Suci dari sifat lemah dan kekurangan.


Artinya :
"Ia merupakan rambu-rambu kepada jalan petunjuk ; dialah sebagai benteng yang dapat menyelamatkan dari segala marabahaya."

"Sanan" dibaca "fathah" artinya "Jalan", sedangkan "Al Hudaa" dengan makna "Hidayah" artinya "Petunjuk" yaitu sarana yang dapat menyampaikan seseorang memperoleh Ilmu Fiqih, yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia ke jalan memperoleh keberuntungan dengan kehidupan abadi dan kebahagiaan yang penuh rahmat dan ampunan Allah Yang Maha Halus. Fiqih juga merupakan benteng yang dapat menyelamatkan orang yang mencarinya dan mempelajarinya dari segala marabahaya, seperti kebodohan terhadap perintah-perintah Allah Ta'ala dan larangan-larangan-Nya. Sebab bodoh terhadap perintah dan larangan Allah termasuk sebesar-besar marabahaya yang tidak Samar lagi.
Artinya:
"Karena sesungguhnya Pakar Fiqih yang perwira lebih berat bagi syetan (untuk mengganggu) daripada seribu orang ahli ibadah (yang tidak alim fiqih). "

Perwira maksudnya memelihara diri dari segala yang haram secara sempurna dalam menjauhinya. Sehingga syetan-syetan lebih berat menggodanya daripada seribu orang ahli ibadah yang tidak alim fiqih. Sebab seorang Faqih itu musuh syetan, dimana syetan selalu menyuruh para manusia berbuat fasik dan kekufuran, sedangkan seorang Faqih selalu mengajak para manusia untuk beriman dan melakukan ketaatan, dan mengajak mereka dari jalan syetan ke jalan Tuhan. Keadaan seperti ini tidak dapat dihasilkan oleh seorang ahli ibadah jika dia tidak alim bahkan dalam beribadah kepada Allah tanpa pengetahuan.

Demikian pula setiap muslim wajib mengetahui budi pekerti terpuji dan tercela. Seperti pemurah, kikir, penakut, pemberani, sombong, tawadlu', iffah (memelihara dari keharaman), boros dan menghemat dalam belanja serta yang lainnya. Sebab sombong, kikir, penakut dan boros itu haram. Sehingga tidak dapat memelihara diri daripadanya melainkan harus mengetahui ilmunya dan ilmu yang berlawanan padanya. Karenanya maka setiap manusia wajib mengetahui sifat dan akhlak itu.

As Sayid Al Imam As Syahid Nashiruddin Abul Qasim telah mengarang sebuah karya terbaik, yaitu sebuah kitab tentang "Ilmu Akhlak". Maka setiap muslim wajib memelihara akhlak dan mempelajarinya.

Adapun menjaga sesuatu yang akan terjadi secara temporer pada waktu-waktu tertentu seperti shalat jenazah, menjenguk orang sakit dan sejenisnya maka hukumnya "Fardlu Kifayah". Jika sebagian penduduk sudah ada yang mengerjakan, maka seluruh penduduk yang lain sudah dianggap cukup dan gugur kewajibannya. Dan inilah pengertian Fardlu Kifayah. Tetapi jika sama sekali tidak ada seorang yang mengerjakannya, maka berdosalah seluruh penduduk itu. Maka seorang Imam atau Penguasa wajib memerintahkan penduduk untuk mengerjakan fardlu kifayah. Karena ilmu yang terjadi pada dirinya sendiri dalam segala hal, adalah ibarat makanan yang diperlukan setiap orang. Dan inilah perumpamaan "Fardlu 'Ain" dimana setiap pribadi wajib melakukannya, ibarat makanan yang harus dimakan setiap individu. Sedangkan ilmu yang kemungkinan terjadi pada suatu saat adalah ibarat obat, dimana sewaktu ia sakit tentu membutuhkannya. Adapun Ilmu Nujum (Astrologi) adalah ibarat penyakit. Maka belajar Astrologi jika tujuannya untuk mencari keselamatan dari qadla dan qodar Allah hukumnya adalah haram. Sebab ia tidak memberikan manfa'at bahkan membahayakan. Padahal menghindar dari qadla dan qadar Allah tidaklah mungkin. Dan selama mempelajarinya berarti merupakan perbuatan sia-sia, tidak berguna, sebagai puncak kendala waktu dan menyia-nyiakan umur. Hal ini jelas berbahaya.

Maka setiap muslim hendaknya mengisi seluruh waktunya untuk herdzikir kepada Allah Ta'ala, berdo'a, bertadlarru', membaca Al Qur'an, dan bersedekah sebagai penolak bahaya serta memohon kesehatan dan ampunan kepada Allah Ta'ala di dunia dan akhirat, agar Allah Ta'ala tetap menjaganya dari bencana dan marabahaya serta terlepas dari kejahatan.
Bersedekah itu dapat menolak bencana, ini berdasarkan sabda Nabi
s.a.w. :

Artinya :
"Sedekah itu dapat menolak bencana dan menambah umur."

Bahwasanya orang yang dikarunia do'a yaitu ia selalu berdo'a, niscaya akan dikabulkan. Jika ada bencana atau bahaya yang pasti akan menimpanya, berkat do'a itu maka Allah akan meringankannya pada seorang hamba yang berdo'a itu dan mengaruniakan kesabaran kepadanya. Ya Allah, jauhkanlah aku dari ilmu nujum (perbintangan). Pada prinsipnya mempelajari ilmu nujum itu haram, kecuali jika dalam mempelajari sekedar untuk mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu shalat, maka hal itu diperbolehkan. Maksudnya kita diperbolehkan mempelajari ilmu nujum sekedar untuk mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu shalat fardlu, sebab hal ini sebagai perantara mengetahui seluk-beluk urusan agama.

Adapun mempelajari Ilmu Kedokteran untuk mengetahui kondisi fisik dalam keadaan sehat atau sakit maka diperbolehkan. Sebab ia merupakan salah satu sebab untuk mengetahui berbagai macam sebab, menditeksi kondisi badan sehat atau sakit dan pengobatannya. Diperbolehkannya mempelajari Ilmu Kedokteran seperti halnya diperbolehkannya mengetahui obat-obatan. Hal ini karena Nabi s.a.w. pernah berobat bahkan menganjurkannya.
Diriwayatkan bahwa Imam Syafi'i Rahimahullahu Ta'ala pernah berkata : "Ilmu itu ada dua, yaitu Ilmu Fiqih untuk mengetahui peraturan agama dan Ilmu Kedokteran untuk mengetahui kondisi tubuh. Sedangkan selain keduanya ibarat hidangan dalam resepsi." Ilmu adalah merupakan sarana yang dapat menjadikan jelasnya pengertian bagi pemiliknya. Adapun Fiqih adalah mengetahui suatu ilmu secara detail.

Imam Abu Hanifah Rahimahullahu Ta'ala berkata : "Fiqih adalah mengetahui kebaikan dan kejelekan yang bermanfa'at dan yang membahayakan diri." Beliau juga mengatakan : "Tujuan ilmu itu untuk diamalkan, dan mengamalkan ilmu adalah meninggalkan kesibukan mengurus keduniaan untuk mencari kebahagiaan akhirat yaitu kedudukan di syurga dan seisinya. Hal ini tidak dapat dihasilkan tanpa ilmu, sebab keduanya berlawanan antara dunia dan akhirat, dunia itu fana', sedangkan akhirat kekal abadi. Maka hendaknya anda tinggalkan yang fana' untuk mencari yang baka' (kekal).

Maka sebaliknya manusia itu jangan sampai melalaikan dirinya. la harus mengetahui perkara yang memberikan manfa'at dan yang membahayakan dirinya, baik di dunia dan di akhiratnya. Seseorang juga harus mengenali dirinya bersifat lemah, fakir, dan rusak. Kami tafsirkan demikian karena ia lemah akalnya untuk mengetahui hakikat dirinya. Dikatakan, bahwa mengetahui dirinya adalah mengetahui sifatnya. Kenyataan pembahasan ini berdasarkan sabda Nabi s.a.w. :
Artinya:

"Siapa mengetahui dirinya maka ia benar-benar mengetahui Tuhannya.”

Hal-hal yang bermanfa'at bagi manusia adalah melakukan peribadatan dan ketaatan, sedangkan yang membahayakannya seperti berbuat keji, kemaksiatan dan kemungkaran. Hal-hal yang bermanfa'at dapat membawa pahala dan kebaikan, sedangkan yang membahayakan itu membawa dosa dan kejahatan. Maka ambillah perkara yang bermanfa'at dan jauhilah perkara yang membahayakan, agar rasio dan ilmunya tidak menjadi argumentasi padanya, lalu dapat menambah siksaan. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kemurkaan dan siksaan-Nya.

Banyak ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits shahih dan masyhur yang mengemukakan tentang sejarah kemegahan Ilmu Pengetahuan dan ke, utamaannya. Di antaranya sebagaimana yang diriwayatkan Sahabat Abu Darda', bahwasanya is berkata : Rasulullah sa.w. bersabda :

Artinya :

"Siapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga. Dan para malaikat selalu meletakkan sayapnya menaungi para pelajar karena senang dengan perbuatan mereka. Sesungguhnya orang alim itu dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi sehingga (sebanyak) ikan-ikan di dalam air. Kelebihan seorang alim alas orang ibadah bagaikan kelebihan sinar bulan alas seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham, mereka hanya mewariskan ilmu agama. Maka siapa yang telah mendapatkannya berarti telah mengambil bahagian yang besar." (HR. Imam Abu Dawud dan At Turmudzi).