Entri Populer

Jumat, 11 November 2011

Bila engkau berjalan di jalan kebaikan,

Apapun yang dimulai dengan keburukan,
akan diperbaiki dengan kesulitan.
Sababatku…
Tugasmu adalah melakukan yang terbaik dari yang bisa kau lakukan.

Apapun dampak dan hasil dari upayamu, ada dalam kewenangan Allah.

Bukan bakatmu, bukan kepandaianmu, dan bukan modalmu yang mengundang Allah untuk menghadiahkan kepadamu dengan kemuliaan dan kelimpahan;

tetapi

kesungguhanmu untuk menatapkan sikapmu ke arah-arah kebaikan,
kesungguhanmu untuk mencemerlangkan pikiranmu untuk menemukan pintu-pintu kebaikan,
dan kesungguhanmu untuk menetapkan tindakanmu di jalan-jalan kebaikan.

Tidakkah engkau memikirkan,
bahwa
Jalan-jalan kebaikan adalah jalan Allah.
Dan bila engkau berjalan di jalan kebaikan,
engkau berjalan bersama Allah.
Maka, berketetapanlah setelah engkau memutuskan untuk bersikap baik, berpikiran baik, dan untuk bertindak yang baik;
lalu,
Setialah kepada yang benar,

karena
Apa pun yang dimulai dengan keburukan,
akan diperbaiki dengan kesulitan.
Allah Yang Maha Memelihara tidak akan membiarkan kita berlaku salah tanpa diingatkan bahwa kita perlu memperbaiki diri.

Kesulitan yang dihadiahkan kepada pribadi yang baik – sebagai cara untuk lebih memuliakannya; juga dihadiahkan kepada pribadi yang sedang salah – sebagai cara untuk membuatnya membenci keburukan dan merindukan kedamaian dari berlaku dalam kebaikan.

Lalu, dengan pengertian ini – apakah engkau masih membenci kesulitan?

Apakah engkau masih merasa pantas untuk mengeluh?

Sekarang, tersenyumlah…

Bukankah pengertian ini semakin memperdalam cinta kita kepada Allah?

Bukankah sekarang – lebih mudah bagimu untuk bersabar?

Sudah jelaskah bagimu sekarang, bahwa kesabaran itu bukanlah sifat, tetapi akibat?

Bila engkau mengerti, engkau akan bersabar.
Bila engkau bersabar, engkau akan dikasihi Allah;
karena kesabaranmu datang dari pengertianmu,
dan pengertianmu datang dari keberserahanmu kepada Allah.

Selasa, 20 September 2011

keindahan al-qur'an

Pesona dan keindahan AlQur’an
Adalah Nur dan kehidupan setiap Muslim,
Rembulan mungkin kecintaan lainnya
Bagi kami yang terkasih Al-Qur’an semata.

Telah kucari ke berbagai penjuru
Tak bersua sama sekali tandingannya,
Bagaimana tidak ada padanannya
Ia adalah Kalam Suci Tuhan yang Maha Kaya.


Setiap kata di dalamnya berisi kehidupan
Dan sumber mata air tak berkesudahan,
Tak ada kebun yang demikian indah
Tidak juga taman serupanya.


Kalam Allah yang Maha Pengasih
Tak ada bandingannya,
Meski mutiara dari Oman
Atau pun mirah dari Badakshan.

Gimana mungkin kata manusia
Bisa mengimbangi Kalam Ilahi?
Di sini kekuatan samawi, di sana tanpa daya,
Bedanya demikian nyata.

Dalam pengetahuan dan kefasihan
Gimana mungkin manusia mengimbangi-Nya?
Padahal para malaikat pun
Tak berdaya di hadirat-Nya.

Bahkan kaki serangga kecil pun
Tak mampu manusia mencipta,
Gimana mungkin baginya
Mencipta Nur sang Maha Perkasa?

Wahai manusia, perhatikanlah
Keagungan Tuhan yang Maha Akbar
Kendalikan lidah kalian
Jika ada sedikit saja keimanan kalian.

Menganggap ada yang sama dengan Tuhan
Adalah kekafiran pada puncaknya,
Takutlah kepada Tuhan, wahai sayangku
Betapa dusta dan fitnah hal ini.

Jika kalian menerima Ketauhidan Ilahi
Mengapa hati kalian berisi penuh berhala?

Tabir kegelapan apa yang telah menyelimuti hati kalian.
Sesungguhnya kalian telah berdosa
Bertaubatlah, jika kalian takut kepada Allah.

Aku tidak mengharapkan buruk bagi kalian, saudaraku
Ini hanyalah nasihat sederhana
Hati dan jiwaku adalah persembahan bagi
Siapa pun yang berhati mulia.
(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 198-204, London, 1984).

* * *

Nur dari Al-Furqan
Adalah yang paling cemerlang dari semua sinar,
Maha Suci Dia yang dari-Nya
Mengalir sungai nur ruhani.

Pohon keimanan dalam Ketauhidan Ilahi
Sudah hampir meranggas kering
Ketika tiba mata air murni ini
Muncul dari ketiadaan.

Ya Allah, Furqan-Mu sendiri adalah alam hakiki
Yang berisi segala yang dibutuhkan makhluk ini.

Telah kucari ke seluruh dunia,
Telah kutelusuri semua tempat niaga
Yang kutemukan adalah piala satu ini
Berisi ilmu hakiki sang Ilahi.

Tak ada padanan Nur ini
Di segenap penjuru bumi
Fitratnya unik dalam segala hal
Tanpa tanding di segala bidang.

Semula kukira bahwa Furqan serupa dengan tongkat Musa,
Setelah kurenungi mendalam nyatanya
Setiap katanya adalah al-Masih.

Jika buta mata mereka
Itu kesalahan mereka sendiri,
Padahal Nur ini telah bersinar
Seterang seratus mentari.

Betapa menyedihkan kehidupan
Umat manusia di dunia,
Yang hatinya tetap membuta
Meski tersedia Nur hakiki ini.

Menjaga Kemaluan

Diriwayatkan dari Sulaiman bin Yassar bahwa dia pernah keluar dari Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Dia pergi bersama seorang temannya. Mereka berdua singgah di sebuah tempat yang bernama Abwa`. (Sebuah tempat yang berada di dekat Madinah) Sesaat setelah singgah di sana, sang teman pergi ke pasar untuk membeli sesuatu, sementara Sulaiman tinggal seorang diri di dalam tenda. Sulaiman termasuk orang yang berparas paling tampan dan menarik. Tiba-tiba ada seorang wanita badui yang melihatnya dari puncak bukit. Wanita itu pun turun untuk menghampiri Sulaiman hingga akhirnya dia berdiri di hadapan Sulaiman. Dia memakai kain penutup wajah, tetapi (sesampainya di hadapan Sulaiman) dia pun membuka penutup wajahnya itu, dan ternyata wajahnya itu seperti belahan bulan.

Dia berkata: ‘Senangkanlah hatiku!’ Sulaiman mengira bahwa wanita itu menginginkan makanan, maka dia pun segera mengambil makanan sisa bekal perjalanan dengan maksud untuk diberikan kepada wanita itu. Tetapi wanita itu justru berkata: “Aku tidak menginginkan makanan ini, tetapi aku menginginkan apa yang biasa dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap isterinya (maksudnya, berhubungan badan).” Sulaiman pun berkata kepadanya: “Semoga Allah menjadikanmu bodoh!” Kemudian Sulaiman meletakkan kepalanya di antara kedua lututnya, lalu dia pun menangis tersedu-sedu. Tak henti-hentinya dia menangis, hingga ketika wanita itu melihat hal tersebut, dia pun segera memakai kembali penutup wajahnya, dan setelah itu dia pergi hingga dia sampai di rumah keluarganya.

Tidak lama kemudian, teman Sulaiman datang. Dia melihat Sulaiman sedang menangis, maka dia pun menanyakan kepada Sulaiman apa yang membuatnya menangis. Sulaiman memberitahukan kepada temannya itu kabar (berita) tentang wanita badui tadi. Mendengar penjelasan Sulaiman, sang teman langsung duduk, lalu dia menangis dengan suara yang sangat keras. Sulaiman bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Sulaiman menjawab: “Sungguh aku lebih pantas untuk menangis daripada kamu, karena aku khawatir bila aku berada pada posisimu niscaya aku tidak akan kuat untuk menghadapi godaan seperti itu.”

Sesampainya Sulaiman di Mekkah, dia segera menunaikan ibadah Sa’i dan Thawaf. Kemudian dia mendatangi Hijir Ismail. Di sana, kedua matanya terasa mengantuk hingga akhirnya dia pun tertidur. Dalam tidurnya itu, dia bermimpi melihat seorang laki-laki yang sangat tampan dan berbau wangi. Sulaiman pun bertanya kepadanya: “Siapakah kamu?” Laki-laki itu menjawab: “Aku adalah Yusuf.” Sulaiman bertanya: “Apakah maksudnya Yusuf Ash-Shiddiq (Nabi Yusuf)?” Laki-laki itu menjawab: “Ya.” Sulaiman berkata: “Sungguh apa yang telah engkau lakukan ketika menghadapi isteri Al-Aziz, Zulaikha, begitu menakjubkan!” Nabi Yusuf as. pun berkata kepada Sulaiman: “Sungguh apa yang kamu lakukan ketika menghadapi wanita badui itu lebih menakjubkan!”

Kemuliaan Seorang Wanita

Di antara kisah menarik tentang kemuliaan wanita adalah seperti yang diceritakan oleh Al-‘Atabi, yaitu bahwa dia pernah berjalan kaki menyelusuri jalan-jalan yang ada di Bashrah. Tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang termasuk wanita yang paling cantik dan manis, sedang bercanda dengan seorang laki-laki tua yang buruk rupa. Setiap kali wanita itu berbicara kepada laki-laki tersebut, dia pun tertawa di hadapan wajahnya.

Al-‘Atabi menceritakan: “Aku pun berusaha untuk mendekati wanita itu, lalu aku bertanya kepadanya: ‘Apa status laki-laki ini bagimu?’

Dia menjawab: ‘Dia adalah suamiku.’

Aku pun bertanya lagi: ‘Bagaimana mungkin kamu bisa bersabar dalam menghadapi keburukan rupa laki-laki ini, padahal kamu adalah wanita yang sangat cantik? Sungguh ini benar-benar menakjubkan!!’

Dia berkata: ‘Wahai Saudaraku, aku berharap barangkali ketika laki-laki itu dikaruniai diriku, dia pun bersyukur. Sebaliknya, ketika aku dikaruniai dirinya, aku pun bersabar. Orang yang bersabar dan orang yang bersyukur adalah termasuk penghuni surga. Bukankah dengan demikian, berarti aku telah ridha terhadap apa yang telah ditetapkan Allah untukku?’

Sungguh jawaban wanita itu membuatku tak berkutik, karena itu aku pun pergi dan meninggalkannya.” (Tuhfah Al-‘Aruus, hal. 147.)

Keindahan Al-Qur`an Luluhkan Hati

Pada suatu hari, Umar keluar dalam keadaan marah sambil memegang sebilah pedang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang lelaki dari Bani Zuhrah (paman-paman Nabi dari pihak ibunya).

Lelaki tersebut bertanya kepada Umar, “Hendak pergi kemana kamu, wahai Umar?”

“Pergi ke Muhammad untuk membunuhnya,” jawab Umar.

“Bagaimana kamu bisa aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika kamu membunuh Muhammad?” tanya sang lelaki.

“Tampaknya kamu juga telah meninggalkan agama kaummu dan mengikuti Muhammad!” kata Umar.

“Wahai Umar, yang mengherankan adalah saudara perempuanmu, Fatimah, dan suaminya, Said bin Zaid, karena mereka telah masuk Islam dan mengikuti Muhammad,” ujar laki-laki itu.

Umar segera berjalan menuju ke rumah saudara perempuannya itu. Saat itu, mereka sedang bersama seorang sahahat agung bernama Khabab bin Al-Art. Ketika Khabab bin Al-Art mendengar suara Umar, dia langsung berlari dan bersembunyi di dalam rumah tersebut. Umar berkata, “Suara apa yang aku dengar dari kalian ini!”

“Suara perbincangan di antara kami,” kata Fatimah.

“Apakah kalian berdua telah meninggalkan agama ayah-ayah dan kakek-kakek kalian?”, hardik Umar.

“Wahai Umar, bagaimana jika kebenaran berada di luar agamamu?”, sahut Said.

Umar berdiri dan menuju ke arah Sa’id, lalu dia memukul Sa’id hingga Sa’id pun jatuh ke tanah. Melihat itu, Fatimah berdiri guna membela suaminya. Namun Umar menamparnya dengan kuat hingga darah mengalir dari wajahnya.

Fatimah pun berkata dengan nada marah, “Wahai Umar, kebenaran itu berada pada agama lain selain agamamu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah!”

Ketika Umar melihat darah mengalir dari wajah saudara perempuannya itu, hatinya berubah menjadi lunak. Lalu dia berkata, “Berikan kitab yang ada pada kalian itu!” Saat itu, di tangan mereka berdua terdapat sebuah kitab yang di dalamnya tertulis surat Thaahaa.

Saudara perempuannya berkata, “Sesungguhnya kamu itu najis, dan sesungguhnya al-Qur`an itu tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci. Maka, berdirilah dan mandilah!”

Umar pun bergegas, lalu dia mandi dan kembali lagi kepada keduanya. Umar adalah orang yang dapat membaca dan menulis. Maka, ia mulai membaca ayat-ayat Allah, “Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah,” (Thaahaa: 1-2) sampai ayat, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.(Thaahaa: 14)

Umar merasakan keindahan dan keagungan al-Qur`an, dan telah jelas baginya kebenaran dakwah Nabi Muhammad saw. Maka, ia berkata, “Antarkanlah aku kepada Muhammad!”

Setelah Khabab mendengar perkataan Umar ini, ia segera keluar untuk menemui Umar, lalu dia berkata, “Bergembiralah kamu, wahai Umar. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah saw pernah berdoa dengan mengucapkan, ‘Ya Allah, muliakanlah Islam melalui salah satu dari kedua Umar ini: Umar bin Khathab dan Amr bin Hisyam.’ Maka, aku berharap kepada Allah agar yang dimaksud salah satu dari kedua Umar itu adalah engkau, wahai Umar.”

Mereka semua keluar untuk menemui Rasulullah saw, hingga akhirnya mereka sampai di Darul Arqam. Saat itu, Hamzah bin Abdul Muthalib, asadullah wa Rasulihi (singa Allah dan Rasul-Nya), sedang di pintu Darul Arqam dengan ditemani oleh sejumlah sahabat. Hamzah adalah orang yang sangat kuat yang kekuatannya sebanding dengan kekuatan Umar ra.

Sebagian sahabat berkata, “Itu Umar!” Setelah mengetahui teman-temannya ketakutan, Hamzah berkata, “Ya, itu adalah Umar. Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada diri Umar, maka dia akan masuk Islam dan mengikuti Nabi Muhammad saw. Tetapi jika tidak, maka kita akan membunuhnya.” Umar pun masuk untuk menemui Rasulullah. Ketika itu pula, Rasulullah berdiri dan langsung memegang baju Umar seraya bersabda, “Apakah kamu akan masuk Islam, wahai Umar? Ya Allah, muliakanlah Islam melalui Umar bin Khathab.”

Umar bin Khathab berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Kaum muslimin serempak membaca takbir hingga bacaan takbir mereka itu terdengar oleh penduduk Mekkah. Saat itu, Jibril as turun dari langit, lalu ia berkata, “Wahai Muhammad, para penghuni langit bergembira dengan Keislaman Umar ini.” Keislaman Umar ini benar-benar merupakan sebuah kemenangan dan kemuliaan bagi kaum muslimin.

Ketika Umar mengucapkan dua kalimat syahadat, dia mengetahui dari lubuk hatinya yang paling dalam bahwa agama ini adalah agama yang paling kuat, dan bahwa orang yang telah masuk Islam harus menjadi orang yang perkasa, kuat, serta tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah swt. Setelah itu, dia berkata Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, bukankah kita berada dalam kebenaran jika kita mati ataupun hidup?”

Rasulullah saw menjawab, “Ya, demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya kalian akan selalu berada dalam kebenaran, jika kalian mati ataupun hidup.”

Umar berkata, “Jika demikian, maka mengapa engkau harus bersembunyi, wahai Rasulullah? Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sungguh kita akan keluar kepada mereka (orang-orang kafir)!”

Orang-orang Islam keluar dalam dua barisan. Barisan pertama dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib, sedangkan barisan kedua dipimpin oleh Umar bin Khathab. Ketika orang-orang musyrik melihat parade ini, dada-dada mereka pun menjadi sesak sementara kesedihan terlihat jelas di wajah mereka. Akan tetapi, tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu untuk berdiri guna menghadapi kedua barisan yang di dalam salah satu barisan terdapat Umar, sedangkan di barisan lainnya terdapat Hamzah. Sebuah nama baru pun diberikan kepada Umar, yaitu sebuah nama yang mudah diucapkan oleh lidah semua orang. Sungguh Rasulullah saw telah menamainya dengan “al-Faruq”, yang berarti orang yang membedakan antara yang hak dan yang batil.

Orang-orang Islam, kemudian, bertawaf di Ka’bah dengan dikomandoi oleh al-Faruq, Umar bin Khathab, seorang yang dirinya telah dirubah oleh Islam dan telah dijadikan sebagai salah seorang tokoh yang terpandang dan dikenal dalam sejarah.

Minggu, 18 September 2011

Kitab Zuhud Dan Kelembutan Hati

  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
    Rasulullah bersabda: Tiga perkara yang akan mengiringi mayit, yang dua akan kembali dan yang satu akan menetap. Ia akan diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amal perbuatannya. Keluarga dan hartanya akan kembali dan tinggallah amal perbuatannya. (Shahih Muslim No.5260)
  • Hadis riwayat Amru bin Auf ra., ia berkata:
    Bahwa Rasulullah mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah ke Bahrain untuk memungut jizyahnya (upeti), karena Rasulullah telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Bahrain dan mengangkat Alaa' bin Hadhrami sebagai gubernurnya. Kemudian Abu Ubaidah kembali dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abu Ubaidah lalu melaksanakan salat Subuh bersama Rasulullah. Setelah salat, beliau beranjak lalu mereka menghalanginya. Ketika melihat mereka beliau tersenyum dan bersabda: Aku tahu kalian telah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah tiba dari Bahrain dengan membawa harta upeti. Mereka berkata: Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Bergembiralah dan berharaplah agar mendapatkan sesuatu yang menyenangkan kamu sekalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka. (Shahih Muslim No.5261)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Bahwa Rasulullah bersabda: Ketika seorang dari kalian memandang orang yang melebihi dirinya dalam harta dan anak, maka hendaklah ia juga memandang orang yang lebih rendah darinya, yaitu dari apa yang telah dilebihkan kepadanya. (Shahih Muslim No.5263)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Bahwa ia mendengar Nabi bersabda: Sungguhnya ada tiga orang Bani Israel, seorang berkulit belang, seorang berkepala botak dan yang lain matanya buta. Allah ingin menguji mereka, maka Dia mengirim malaikat. Malaikat ini mendatangi orang yang berkulit belang dan bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu menjawab: Warna (kulit) yang bagus, kulit yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku. Malaikat tersebut mengusap tubuhnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi warna yang bagus dan kulit yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? Orang itu menjawab: Unta. Atau: Ia menjawab: Sapi. (Ishak ragu-ragu tentang itu). Lalu ia diberi unta yang hampir melahirkan lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. Kemudian ia mendatangi orang yang botak lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Orang itu berkata: Rambut yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku. Malaikat mengusapnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi rambut yang indah. Malaikat bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu senangi? ia menjawab: Sapi. Maka ia diberi sapi bunting lalu malaikat berkata: Semoga Allah memberkahinya untukmu. Kemudian malaikat mendatangi yang buta, lalu bertanya: Apa yang paling kamu sukai? Ia menjawab: Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku dapat melihat manusia. Maka Malaikat mengusapnya, sehingga penglihatannya kembali normal. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apa yang paling kamu sukai? Ia menjawab: Kambing. Maka ia diberi kambing yang beranak. Selanjutnya semua binatang yang diberikan itu beranak-pinak sehingga orang yang berpenyakit belang dapat mempunyai unta satu lembah, yang botak mempunyai sapi satu lembah dan yang asalnya buta memiliki kambing satu lembah. Pada suatu ketika malaikat kembali mendatangi orang yang berpenyakit belang dalam bentuk dan cara seperti ia dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah menganugerahimu warna yang bagus, kulit yang indah serta harta benda, aku minta seekor unta untuk membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Masih banyak sekali hak-hak yang harus kupenuhi. Maka malaikat itu berkata kepadanya: Aku seperti mengenal kamu, bukankah kamu yang dahulu berpenyakit kulit belang yang manusia jijik kepadamu, serta yang dahulu fakir lalu diberi harta oleh Allah? Orang itu berkata: Aku mewarisi harta ini secara turun-temurun. Malaikat berkata: Kalau kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. Setelah itu malaikat tadi mendatangi orang yang dahulu botak dalam bentuknya seperti dahulu lalu berkata kepadanya seperti apa yang dikatakannya kepada orang yang berkulit belang, dan orang itu menjawabnya seperti jawaban orang yang belang tadi. Maka malaikat berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi. Kemudian sesudah itu malaikat mendatangi orang yang dahulu buta dalam bentuk dan cara seperti dahulu lalu berkata: Aku orang miskin yang mengembara dan telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah memulihkan penglihatanmu, aku minta seekot kambing untuk membantuku dalam perjalanan. Orang itu berkata: Dahulu aku buta, lalu Allah memulihkan penglihatanku, maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu inginkan. Demi Allah aku tidak akan membebani kamu untuk mengembalikan sesuatu yang telah kamu ambil untuk Allah. Maka malaikat berkata: Peganglah hartamu itu semua, karena kamu sekalian hanya sekedar diuji, kamu telah diridai Tuhan, sedangkan kedua sahabatmu telah dimurkai Allah. (Shahih Muslim No.5265)
  • Hadis riwayat Saad bin Abu Waqqash ra., ia berkata:
    Demi Allah, aku adalah orang Arab pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Kami pernah berperang bersama Rasulullah dan tidak ada makanan yang dapat kami makan selain daun hublah dan daun samur (dua macam tanaman padang pasir), sehingga kotoran kami seperti kotoran kambing. Kemudian keesokan harinya Bani Asad mengajariku pengetahuan agama. Kalau demikian, sungguh aku telah gagal dan usahaku sia-sia. Dan Ibnu Numair tidak mengatakan: Kalau demikian. (Shahih Muslim No.5267)
  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Sejak berpindah ke Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5274)
  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Kami, keluarga Muhammad sering hidup selama satu bulan tidak menyalakan api (memasak), karena makananannya hanya kurma dan air. (Shahih Muslim No.5280)
  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Ketika Rasulullah wafat, di lemariku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan manusia, kecuali setengah roti gandum yang berada dalam sebuah lemari milikku lalu aku memakan sebagian untuk beberapa lama, kemudian aku timbang ternyata telah habis. (Shahih Muslim No.5281)
  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Rasulullah wafat ketika orang-orang sudah kenyang memakan kurma dan air. (Shahih Muslim No.5284)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Dalam riwayat Ibnu Abbad: Demi Tuhan yang jiwa Abu Hurairah berada dalam genggaman-Nya, belum pernah Rasulullah membuat keluarganya kenyang selama tiga hari berturut-turut dengan roti gandum sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5286)
1. Janganlah memasuki daerah kaum yang menganiaya diri mereka sendiri, kecuali dengan menangis
  • Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda kepada Ashabul Hijr: Janganlah kamu sekalian memasuki daerah kaum yang telah disiksa, kecuali jika kamu sekalian menangis. Kalau kamu tidak menangis, janganlah memasuki daerah mereka agar kalian tidak tertimpa apa yang menimpa mereka. (Shahih Muslim No.5292)
2. Berbuat baik kepada janda, orang miskin dan anak yatim
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Dari Nabi saw. beliau bersabda: Orang yang membiayai para janda dan orang miskin itu bagaikan seorang pejuang di jalan Allah. Aku mengira beliau menambahkan: Dan bagaikan orang yang selalu menjalankan salat malam tanpa henti atau bagaikan orang yang selalu berpuasa tanpa berbuka. (Shahih Muslim No.5295)
3. Orang yang menyekutukan Allah dalam amalnya (riya)
  • Hadis riwayat Jundub Al-Alaqiy ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya dengan amalnya, maka Allah akan menampakkan riyanya. (Shahih Muslim No.5302)
4. Berucap satu kata buruk akan jatuh ke dalam neraka
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sungguh ada seorang hamba yang mengucapkan satu kata (buruk) sehingga ia terjerumus ke dalam neraka lebih dalam dari jarak antara timur dan barat. (Shahih Muslim No.5303)
5. Siksaan orang yang memerintahkan kebaikan, tetapi ia tidak mengerjakannya dan melarang berbuat kemungkaran, tetapi ia mengerjakannya
  • Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:
    Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Lalu penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya: Hai Fulan, kanapa kamu disiksa seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Ia jawab: Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya. (Shahih Muslim No.5305)
6. Larangan membuka aib sendiri
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Semua umatku akan ditutupi segala kesalahannya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Masuk dalam kategori berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seorang berbuat dosa di malam hari kemudian Allah telah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada temannya): Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah menutupi dosanya ketika di malam hari sehingga ia bermalam dalam keadaan ditutupi dosanya, kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Allah dari dirinya. (Shahih Muslim No.5306)
7. Mendoakan orang yang bersin dan makruh menguap
  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
    Dua orang bersin di dekat Rasulullah saw., beliau mendoakan salah seorangnya dan membiarkan yang lain. Orang yang tidak didoakan itu berkata: Si Fulan bersin kemudian engkau mendoakannya, tetapi aku bersin, engkau tidak mendoakanku. Beliau bersabda: Orang ini memuji Allah tetapi kamu tidak memuji Allah. (Shahih Muslim No.5307)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Menguap itu termasuk dari (gangguan) setan, maka jika seorang dari kamu menguap, hendaklah ia menahan semampunya. (Shahih Muslim No.5310)
8. Tentang tikus jelmaan
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Satu kaum dari Bani Israel telah hilang-lenyap tanpa diketahui sebab apa yang telah dikerjakan dan tidak terlihat, kecuali (dalam bentuk) tikus. Tidakkah kamu lihat, jika (tikus tiu) diberi susu unta, ia tidak meminumnya, tetapi jika diberi susu kambing ia meminumnya. (Shahih Muslim No.5315)
9. Orang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Dari Nabi saw., beliau bersabda: Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama. (Shahih Muslim No.5317)
10. Larangan memuji secara berlebihan dan dikhawatirkan dapat menimbulkan akibat buruk bagi yang dipuji
  • Hadis riwayat Abu Bakrah ra., ia berkata:
    Seorang lelaki memuji orang lain di hadapan Nabi saw. maka beliau bersabda: Celaka kamu! Kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu! Beliau mengucapkannya berulang-ulang. Apabila seorang di antara kamu terpaksa harus memuji temannya, hendaklah ia berkata: Aku mengetahui kebaikan si Fulan namun Allah lebih mengetahui keadaannya, dan aku tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun yang aku ketahui di hadapan Allah karena Allah lebih mengetahui keadaannya yang sebenarnya. (Shahih Muslim No.5319)
  • Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
    Nabi saw. mendengar seorang memuji orang lain secara berlebih-lebihan, maka beliau bersabda: Sungguh kamu telah membinasakannya atau telah memotong punggung orang itu. (Shahih Muslim No.5321)
11. Tentang sikap berhati-hati dalam menerima hadis dan hukum mencatat ilmu
  • Hadis riwayat Aisyah ra.:
    Dari Urwah ia berkata: Abu Hurairah ra. pernah meriwayatkan suatu hadis dengan berkata: Wahai pemilik kamar, dengarkanlah! Wahai pemilik kamar, dengarkanlah! Ketika itu Aisyah sedang salat lalu setelah menyelesaikan salatnya, ia berkata kepada Urwah: Apakah kamu tidak mendengar ucapan orang ini tadi? Karena sesungguhnya Nabi saw. jika mengucapkan suatu hadis, jika ada yang menghitungnya, maka ia pasti dapat menghitungnya. (Shahih Muslim No.5325)

Senin, 15 Agustus 2011

HATI YANG BENING, HATI YANG BERSINAR DENGAN NUR ILAHI

Hati manusia diibaratkan bagaikan cermin yang mampu memantulkan cahaya yang jatuh diatasnya. Cermin yang dihadapkan pada sumber cahaya seperti matahari akan memantulkan kembali cahaya matahari tersebut, hingga ia akan bersinar terang bagaikan matahari pula. Namun jika cermin itu dipenuhi debu, kotoran dan berbagai noda hitam yang tidak pernah dibersihkan, cermin itu akan menjadi gelap pekat hingga tidak mampu memantulkan cahaya matahari yang jatuh diatasnya. Demikian pula jika cermin itu dipalingkan menyamping atau membelakangi matahari, maka cermin tersebut juga tidak akan mampu memantulkan sinar matahari yang jatuh diatasnya.
Demikian pula halnya dengan hati manusia, setiap saat Allah menyinari hati manusia dengan Nur (Cahaya) Nya. Ada hati yang mampu memantulkan cahaya Ilahi itu dan bersinar terang menerangi diri dan lingkungannya, namun banyak pula hati yang tidak mampu memantulkan Nur Ilahi yang datang padanya. Hati tersebut gelap pekat, membawa kegelapan bagi diri dan lingkungannya. Allah telah mengunci mati hati yang gelap pekat tersebut sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 7 :
al-baqarah-7
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Al Baqarah 7)
Ada dua hal yang menyebabkan hati manusia gelap pekat tidak mampu memantulkan cahaya Ilahi yang menyinari hatinya. Pertama hati itu dipenuhi debu, kotoran dan noda hitam akibat dosa dan perbuatan maksiat yang dilakukannya, sehingga hati tersebut menjadi hitam legam dan tidak mampu memantulkan cahaya yang datang padanya. Kedua, hati tersebut tidak mendapat cahaya dari Ilahi karena hati tersebut berpaling tidak menghadap pada sumber cahaya Ilahi yang datang padanya. Hati tersebut mungkin menyerong, menyamping atau bahkan membelakangi sumber cahaya Ilahi yang mendatanginya, sehingga cahaya Ilahi tidak mengenai permukaan hati tersebut. Walaupun hati tersebut bersih dari perbuatan dosa dan maksiat, namun ia tetap gelap tidak mampu memberi cahaya bagi diri dan lingkungannya karena memang tidak ada cahaya yang bisa dipantulkan kembali oleh hati tersebut.
Allah sumber cahaya yang menerangi
Allah adalah sumber cahaya yang menerangi alam semesta, menerangi langit dan bumi, menerangi kehidupan manusia, menerangi hati yang dalam kegelapan. Allah menjelaskan hal tersebut dalam surat An Nur ayat 35 :
annur-35
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An Nur 35)
Orang yang selalu menghadapkan hati dan fikirannya kepada Allah yang maha Tinggi dan terus menerus berusaha membersihkan hatinya dari berbagai kotoran yang datang setiap saat, niscaya hatinya akan bersinar cemerlang dengan cahaya Ilahi. Hatinya memantulkan serta memancarkan Nur (cahaya) Ilahi yang diterimanya menerangi kehidupan serta lingkungan tempat dia berada. Namun orang yang memalingkan hati dan fikirannya dari menghadap Allah, dan membiarkan berbagai kotoran bertumpuk menutupi hatinya, tidak akan pernah mendapat cahaya Ilahi. Hatinya gelap pekat demikian pula hidupnya berada dalam kegelapan dan ketidak pastian, ia tidak mampu menerangi dirinya sendiri apalagi menerangi lingkungan hidupnya.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an agar kita selalu menghadapkan hati dan fikiran kepada Allah sehingga hati dan fikiran kita selalu mendapat cahaya dari-Nya yang menerangi dan menuntun kita dalam menempuh perjalanan hidup didunia maupun akhirat. Perhatikan firman Allah dalam surat Ar Rum 30 dan Yunus 105 :
30- Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,( Ar- Rum 30)
105- dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. (Yunus 105)
Orang yang memalingkan wajahnya dari Allah dan mengambil tuhan yang lain sebagai sembahannya (Musyrik, Kafir ) tidak akan mendapat bimbingan dan petunjuk dari Allah, mereka hidup dalam kegelapan, tidak mempunyai pegangan hidup yang jelas.
Disamping menghadapkan wajah, hati dan fikiran pada Allah kita juga diperintahkan untuk membersihkan hati dan fikiran dari berbagai kotoran dan perbuatan dosa. Hati yang selalu bersih dari debu, kotoran dan dosa menjadi jernih dan bening, sehingga mampu memantulkan Nur Ilahi yang diterimanya, untuk menerangi jalan hidup diri dan lingkungannya.
Usaha menghadapkan hati dan fikiran kepada Allah swt.
Hati yang berpaling atau membelakang dari menghadap Allah tidak akan mendapat cahaya atau Nur Ilahi. Syetan dan bala tentaranya selalu berusaha agar manusia berpaling dari Allah, Syetan berusaha agar manusia memalingkan wajah, hati dan fikirannya kepada selain Allah. Syetan memperlihatkan indah dan benar semua perbuatan mereka yang sesat, mereka menyembah selain Allah, seperti tuhan Yesus, patung Budha, berhala, matahari, Roh leluhur, para Dewa, tempat keramat, benda pusaka dan lain sebagainya. Tujuan hidupnya hanya untuk memenuhi keinginan syahwat dan nafsu duniawi.
Hadapkan hati dan fikiran semata mata hanya pada Allah, jangan menyembah tuhan atau kekuatan yang lain dari Allah. Hindari menyimpan benda keramat, azimat, benda pusaka dan jauhi segala aktifitas pemujaan selain kepada Allah. Ingat dan selalu sebut nama Allah didalam hati dan fikiran ketika berdiri, duduk dan berbaring. Perbanyak mengerjakan sholat sunah, wirid zikrullah, membaca Qur’an secara rutin. Jangan kagum dan takjub kepada kekayaan duniawi atau keistimewaan yang diberikan Allah kepada orang yang berpaling dari Allah. Semua itu hanyalah ujian dan fitnah dari Allah, mereka menyangka telah mendapat hidayah dan petunjuk, mereka merasa berada pada jalan yang benar. Syetan telah menipu mereka sehingga memandang baik semua kesesatan dan kekeliruan yang mereka lakukan. Allah telah mengingatkan ini dalam surat An Naml ayat 4 dan surat Fushilat ayat 25 :
4- Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). (An Naml 4)
25- Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.(Fushilat 25)
Dengan memperbanyak Dzikrullah, sholat sunah, membaca Qur’an syetan tidak mempunyai kesempatan untuk masuk kedalam hati dan fikiran kita, sehingga tidak mampu memalingkan hati dan fikiran kita dari mengingat Allah.
Usaha membersihkan hati dari kotoran dan dosa
Kotoran dosa, dan berbagai kemaksiatan yang kita lakukan dapat menutup hati hingga tidak mampu memantulkan Nur Ilahi yang datang menyinari hati. Bersihkan hati dari berbagai kotoran dan dosa tersebut dengan memperbanyak istighfar dan menahan diri dari melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Ucapkan istigfar dengan tulus dan sungguh-sunguh, satukan lisan, hati dan fikiran dalam kalimat istighfar yang diucapkan, mohon ampun dengan sungguh-sungguh hingga meneteskan air mata. Yang diterima oleh Allah bukan banyaknya kalimat istighfar yang diucapkan, tapi ketulusan dan kesungguhan hati. Walaupun membaca kalimat istigfar sampai ribuan kali (1000 atau 5000 kali) jika tidak diikuti dengan keikhlasan dan kesungguhan hati tidak akan bermanfaat, apalagi jika kalimat istighfar diucapkan sambil fikiran melantur kemana mana.
Hindari diri dari melakukan perbuatan dosa kecil, apalagi dosa besar. Jauhi tempat tempat yang dapat membangkitkan syahwat, jauhi aktifitas dan pergaulan yang cenderung berhura-hura, pesta pora, perjudian, zina, mabuk mabukan dan lain sebagainya. Perbanyak bergaul dengan orang saleh, dekati masjid dan majelis taklim. Insya Allah hati menjadi jernih dan bening.
Nur Ilahi yang menerangi orang Mukmin
Orang yang hatinya bersinar dengan Nur Ilahi , selalu mendapat bimbingan dan petunjuk Allah dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Rasulullah pernah bersabda :” Takutlah kepada firasat orang mukmin, karena orang mukmin itu melihat dengan Nur Allah”. Bagi orang Mukmin tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, ia selalu mendapat jalan keluar dari berbagai masalah yang dihadapinya serta mendapat rezeki dari tempat yang tidak pernah disangka sangka, sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat Thalaq ayat 2-3
2.….. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.
3- Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At Thalaq 2-3)
Orang Mukmin yang hatinya bersinar dengan Nur Ilahi selalu mendapat kemudahan dalam hidupnya, sebagaimana disebutkan Allah dalam surat Al Laili ayat 5-7
5- Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,
6- dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),
7- maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (Al laili 5-7)
Rasulullah telah bersabda : ” Apabila Allah menghendaki kebajikan kepada seseorang, maka Allah akan menjadikan untuknya penasehat dari hatinya (sendiri)”
Sabda beliau lagi : “Barang siapa yang hatinya menjadi penasihat baginya , maka Allah akan menjadi pelindung atasnya”
Rasulullah juga mengatakan :” Hati orang mukmin itu bersih, didalamnya ada lampu yang bersinar, dan hati si kafir itu hitam dan terbalik ”
Dipadang Mahsyar kelak orang Mukmin akan berjalan dengan cahaya terang benderang disekelilingnya sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat At Tahrim ayat 8 :
8- Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia;
sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu“. (At Tahrim 8)
Demikianlah orang Ber-Iman selalu diiringi dan mendapatkan cahaya kehidupan dari Nur Ilahi yang memancar dari dalam hati mereka, hidup aman, nyaman sepanjang masa.
Orang yang memalingkan wajahnya dari Allah
Didunia ini banyak kita temukan orang yang memiliki ahlak terpuji, memiliki hubungan antar manusia yang sangat baik. Mereka sangat peduli dengan kehidupan sesama manusia, suka menolong berjiwa sosial disenangi dimanapun mereka berada karena ahlaknya yang baik. Namun disisi lain mereka tidak kenal dengan Allah, mereka menyembah tuhan yang lain dari Allah, ada yang menyembah Yesus kristus, Budha, berhala, para dewa, Matahari, Bulan, benda dan tempat keramat, Arwah leluhur dan lain sebagainya.
Orang ini diibaratkan seperti cermin yang bersih, namun dia tidak memancarkan cahaya karena posisinya tidak menghadap pada sumber Cahaya, melainkan menyerong, menyamping atau membelakangi sumber cahaya. Demikian pula hati orang yang bersih dari kotoran dan dosa namun jika tidak dihadapkan pada Allah, tidak akan memancarkan Nur Ilahi. Mereka hanya tampak indah pada dhohirnya, namun hati mereka kering, gersang dan gelap. Dari segi kehidupan dunia mereka sangat menarik, namun dari segi Rohani mereka hidup dalam kegelapan. Allah mengingatkan dalam surat Thaha 131 agar kita tidak takjub dan kagum kepada orang yang seperti ini, mereka hanya tampak indah dan menarik dari segi dhohirnya saja.
131- Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaha 131)
Berpegang teguhlah pada tali Allah, hadapkan hati dan fikiran hanya pada Allah Tuhan semesta alam. Tanamkan dalam hati tidak ada Tuhan selain Allah, Dialah tujuan utama dari setiap orang yang ber-iman. Ingat pernyataan Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam surat Al An Aam ayat 79 yang juga selalu kita ucapkan dalam do’a iftitah setiap sholat
al-anam79
79- Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Al An Aam 79)