Entri Populer

Minggu, 13 November 2011

Miskin di dunia tak mengapa, Miskin di akherat jangan sampai

KITA sering menyaksikan orang kaya, yang saking kayanya, ia merasa tak butuh lagi mendirikan shalat. Mereka bangga dengan harta yang dipunyai sehingga lupa pada Sang Mahapemberi harta. Orang-orang seperti ini mengira bahwa materi yang dimiliki adalah merupakan hasil kerja kerasnya sendiri, tanpa ada campur tangan pihak lain dalam hal ini Allah. Jadilah mereka golongan kufur yang tidak pernah bersyukur atas rezeki yang diperolehnya.

Di lain tempat, kita juga sering menyaksikan orang-orang miskin yang karena kemiskinannya merasa bahwa mereka terlalu sibuk dengan urusan perut sehingga tak butuh shalat. Toh shalat juga tak akan membantu mereka dapat uang atau makanan untuk mengganjal perut, begitu dalihnya. Hidup dihabiskan hanya untuk mencari pengganjal perut dari hari ke hari. Orang miskin tak perlu sok alim, itu semboyan yang sering dikatakan oleh orang-orang ini.

Sobat muslim, mungkin kamu pernah bertemu dengan salah satu tipe di atas. Atau bahkan mungkin kedua-duanya pernah kamu temui dalam kehidupan di sekitarmu. Sangat banyak orang yang kufur nikmat, tak peduli dari golongan miskin atau kaya stratanya. Kufur ya kufur saja tak perlu banyak dalih. Orang yang berada dalam kondisi kaya dan mapan, sering berada pada kondisi mengkhawatirkan ini. Dengan kekayaannya mereka tak lagi merasa butuh pihak lain termasuk Allah. Na’udzubillah.

Namun ada pihak yang jauh lebih mengenaskan yaitu ketika mereka enggan untuk mendekat pada Allah padahal kondisi diri dalam keadaan miskin. Sudahlah miskin, sombong pula. Itulah gambaran tepat bagi orang-orang yang tak mau tunduk dan mendekat pada Sang Mahakaya ketika diri dirundung kemiskinan di dunia. Mereka ini malah menyalahkan takdir karena dilahirkan dalam kondisi miskin. Kasihan sekali, miskin materi, diperparah lagi dengan miskin iman di hati.

…Kita mungkin tak punya uang di dunia, tapi jangan sampai kita tak punya iman. Kita mungkin miskin harta di dunia, tapi jangan sampai kita miskin harta di akhirat…

Miskin atau kaya ada kalanya tidak bisa kita duga. Orang bilang roda selalu berputar, ada kalanya di bawah ada kalanya di atas. Miskin atau kaya tak bermakna apa-apa tanpa kita bisa mengambil hikmah di dalamnya. Tak berguna uang segepok bila ternyata kita kufur nikmat. Makin parah lagi ketika sudah miskin di dunia, tapi menjadi kandidat calon miskin di akhirat. Kok bisa? Karena orang miskin yang tidak bersabar terhadap kemiskinannya bahkan menyalahkan takdir, adalah orang-orang yang akan abadi dalam kemiskinan, dunia akhirat. Itulah kemiskinan yang mengerikan, tiada batas dan tepinya.

Sungguh kasihan bila kondisi ini sampai terjadi. Ketika diri merasa merana dan papa, manusia butuh sandaran. Ketika kita punya banyak keinginan tapi apa daya tak ada uang di tangan, kita butuh bantuan. Ketika begitu banyak keluh-kesah kita tentang kehidupan, kita butuh tempat mengadu. Ke mana lagi kita akan menuju bila bukan pada muara sejati yaitu Allah Rabbul Izzati? Dia-lah pemilik langit dan bumi, Dia juga pemilik kehidupan yang sedang kita jalani. Bila bukan pada-Nya kita kembali dan mengadukan diri, lalu pada siapa lagi?

…Ketika begitu banyak keluh-kesah kita tentang kehidupan, kita butuh tempat mengadu. Ke mana lagi kita akan menuju bila bukan Allah Pemilik langit dan bumi…

Kita mungkin tak punya uang di dunia, tapi jangan sampai kita tak punya iman. Kita mungkin miskin harta di dunia, tapi jangan sampai kita miskin harta di akhirat. Karena di akhirat itulah tujuan perjalanan akhir manusia, untuk ditentukan tempat abadinya, di surga ataukah neraka. Maka sungguh celakalah orang-orang yang tak bisa mengambil hikmah dari kehidupannya, karena sesungguhnya miskin atau kaya bukanlah inti masalah. Yang utama adalah penyikapan kita sebagai manusia, mau memilih menjadi orang kufur atau bersyukur. Wallahu a‘lam.

Jumat, 11 November 2011

KETULUSAN dan AIRMATA----begitu dekat

Dalam kesedihan dan kegembiraan,
ketulusanmu selalu dekat dengan air matamu.
Walaupun pandanganmu terburamkan oleh air mata, sebetulnya hatimu mengerti bahwa Allah tersenyum penuh kasih menantikan ketulusan hatimu.

Tidak ada tangisan yang lebih indah daripada tangisanmu yang telah berserah.

Tangisanmu adalah pembuka dari semua kepura-puraan dan kepalsuanmu.

Derai tangismu adalah tanda bahwa engkau telah lama membawa beban berat yang seharusnya telah lama kau serahkan kepada Rabb-mu.

Serahkanlah semua bebanmu. Allah sangat tersanjung menerima semua bebanmu; itu sebabnya Allah kau sebut sebagai Rabb-mu.

Allah telah memintamu untuk menyerahkan bebanmu kepada-Nya, bahkan sebelum engkau mengerti permintaan; tetapi entah mengapa engkau berlaku seperti engkau tidak membutuhkan bantuan.

Tuluslah dalam rembukanmu dengan Allah.
Engkau tidak dapat keluar dari pertemuan yang tulus dengan Allah, tanpa menjadi pribadi yang baru, yang lebih baik.

Jihad

Arti / Makna :
  • Dalam bahasa berarti "Berusaha keras" atau "Berjuang"
  • Dalam konteks Islam bermakna "Berjuang menegakkan syariat Islamiah"

Bentuk Jihad :
Ber-Jihad tidak selalu harus identik dengan ber-perang secara lahiryah / fisik , sebab Jihad , antara lain , dapat berbentuk :
  • Perjuangan dalam diri sendiri untuk menegakkan syariat Islamiah
  • Perjuangan terhadap orang lain , baik lisan , tulisan atau tindakan
  • Jihad dalam bentuk pertempuran : QITAL (Contoh: At-Taubah - Ayat 111 , disebut sebagai "qital" dengan arah : "fisabilillah" - Perang dijalan Allah , tidak disebut "jihad" dengan arah "fisabilillah")
    Islam membenci peperangan , tetapi mewajibkan berperang , jika dan hanya jika , muslim diserang (karena agama) terlebih dahulu dan diusir dari negeri-nya ( sampai suatu batas mutlak yang ditentukan . Terlalu luas untuk dijabarkan disini ).
Surat An Nisaa’ - 4:84
Maka berperanglah ( qatil ) kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri . Kobarkanlah semangat para mu’min (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya) Al Mumtahanah 60:9
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu , dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Saat ber-Jihad :
Jihad harus dilakukan setiap saat , dalam kesadaran 24 jam sehari , sepanjang tahun , seumur hidup . Kerena didalamnya (antara lain) termasuk
  • Perjuangan untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh allah SWT
  • Berjuang untuk mau menjalankan perintahnya-perintahnya Seperti melawan rasa kantuk dan dingin yang menghalangi Shalat Subuh , atau bersabar untuk mengendalikan amarah, dsb .


My Old Notes

Sering kita mendengar kata JIHAD , dan diartikan sebagai "Perang Suci" . Hal ini tidak dapat disalahkan , namun makna kata "Perang" disini sering di-baur-kan dengan pengertian perang dalam arti fisik . Ini yang harus diluruskan .
Jihad dalam bahasa Arab bermakna "berjuang" atau "berusaha keras" , dan ini dapat diberlakukan bagi siapa saja , baik muslim maupun bukan muslim .
    Contoh :
    Surat Al Ankabuut - Ayat 8
    Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu (jahadaka) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Disini dilakukan oleh orang tua yang memaksakan ( berusaha keras ) agar anak-nya yang muslim kembali kepada ke-kafir-an .
Dalam banyak terjemahan , jihad diartikan sebagai Perang Suci , sementara dalam Islam sendiri dilarang untuk memulai suatu peperangan , kecuali bila sudah tidak dapat dielakkan , atau memang bisa dipertanggung jawabkan secara agama (eg: untuk membela diri , atau karena diserang terlebih dahulu ).
"Perang Suci" bila diterjemahkan dalam bahasa Arab adalah : "harbun muqaddasatu" (atau "al-harbu al-muqaddasatu") . Tidak ada dalam Al-Qur'an atau kumpulan Hadits (asli) yang meng-arti-kan kata "jihad" sebagai "Perang Suci" , melainkan "perjuangan" atau "berusaha keras" .
Amat disayangkan bahwa banyak penulis Islam yang terpengaruh atas propaganda penterjemah barat yang mengartikan jihad sebagai "Perang Suci". Bisa saja dalam literatur barat mereka salah mengartikan jihad sebagai suatu bentuk semacam "Perang Salib" dalam sejarah Nasrani .
Sekali lagi , Tidak !. Jihad bukan ber-konotasi "Perang" . Sebab perang dalam bahasa Arab adalah : "HARB" atau "QITAL" , dan ini disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits sebagai kata "perang dalam arti fisik" .
Bagi muslim , jihad berarti "perjuangan" atau "beruasaha dengan keras" . Yang kemudian ber-transformasi sebagai kata yang mempunyai makna atau arti khusus , "membela agama" . Hal ini tentunya karena kata jihad yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits , seperti contoh dalam beberapa ayat sebagai berikut :


Contoh 1 :
Surat At Taubah - Ayat 24 :
Katakanlah: "jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari ber-jihad di jalan-Nya , maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Jelas disini bahwa "jihad" merupakan kata-kerja "berjuang" . Yang mana tentunya harus ditunjukkan arah atau sifat "perjuangan"-nya , yaitu : "di-jalan-Nya" , jalan kebenaran membela ajaran Allah" . Sebab bisa saja "ber-jihad" membela negara . Seandainya "jihad" berarti "Perang Suci" , maka kiranya cukup disebutkan "ber-Jihad" , tanpa "di jalan-Nya" ( Silahkan buka Al-Qur'an dalam tulisan / bahasa Arab-nya ) .


Contoh 2 :
Surat Al Furqaan - Ayat 52 :
Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah (jahidhum) terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan jihad (jihada) yang besar.
Daklam ayat ini adalah mengenai ber-jihad (berjuang) internally (dalam diri sendiri) , yaitu dengan kebenaran yang dibekali kepada kita dalam Al-Qur'an , agar tidak sampai terpengaruh atau mengikuti jalan-jalan orang kafir . Dan berhindarlah dengan perjuangan yang besar . Kita harus berjuang agar tidak terpengaruh orang pemikiran kafir , yakinkanlah diri kita akan kebenaran yang ada dalam Al-Qur'an . Yakinkanlah dengan perjuangan akbar . Biarkan mereka jalan pada jalan-nya sendiri , dan kita pada jalan Al-Qur'an , seperti yang tercantum dalam ayat berikutnya :
Surat Al Furqaan - Ayat 53 :
Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.
Dari kedua ayat ini , jelas bahwa Jihad tidak harus berarti dengan menyerang orang lain . Sebab Allah yang menjadikan mereka demikian , agar dapat memberi pengajaran kepada kita . Oleh sebab itu justru SALAH jika kita menyerang mereka terlebih dahulu , sebab itu berarti kita "membobol dinding" yang telah dijadikan Allah sebagai pembatas , agar kita tidak ter-cemar . Bila kita membobol dinding , maka akibatnya justru air kita yang "tawar dan segar" akan tercemar menjadi "asin dan pahit" .

25:52
Therefore listen not to the Unbelievers but strive against them with the utmost strenuousness with the (Qur'an). 25:53
It is He Who has let free the two bodies of flowing water: One palatable and sweet and the other salt and bitter; yet has He made a barrier between them a partition that is forbidden to be passed.



KESIMPULAN :
Pada dasar kata arti jihad adalah "berjuang" atau "ber-usaha dengan keras" , namun tidak harus berarti "perang dalam makna "fisik" . Kalau sekarang jihad telah sering diartikan sebagai "perjuangan untuk agama" , memang bisa saja dibenarkan , walau itu tidak harus berarti perjuangan fisik . Bila meng-arti-kan jihad hanya sebagai peperangan fisik , dan extern , untuk membela agama bisa sangat ber-bahaya , sebab akan mudah di-manfaat-kan , dan rentan terhadap fitnah . Berjihad dengan perang fisik jelas dinyatakan sebagai QITAL .
Kalau mau meng-artikan Jihad sebagai "perjuangan membela agama" , maka lebih tepat bila dikatakan bahwa ber-Jihad adalah : "perjuangan menegakkan syariat Islam" . Sehingga berjihad harus -lah dilakukan setiap saat , 24 jam sehari , sepanjang tahun , seumur hidup .
  • Jihad bisa ber-arti ber-juang "Menyampaikan atau menjelaskan kepada orang lain kebenaran Ilahi , walaupun bisa digebukin orang banyak" .
  • Atau bisa ber-jihad dalam diri kita sendiri untuk "tidak mencuri atau men-jarah walau kita sedang lapar" .
  • Atau -pun bisa ber-jihad dengan "Tidak ber-riya dalam keadaan banyak rakyat sedang sulit sembako" ,
  • Bisa saja ber-jihad adalah : "Memaksakan diri untuk bangun pagi dan shalat Subuh , walau masih mengantuk dan dingin"
  • dlsb .

Bila engkau berjalan di jalan kebaikan,

Apapun yang dimulai dengan keburukan,
akan diperbaiki dengan kesulitan.
Sababatku…
Tugasmu adalah melakukan yang terbaik dari yang bisa kau lakukan.

Apapun dampak dan hasil dari upayamu, ada dalam kewenangan Allah.

Bukan bakatmu, bukan kepandaianmu, dan bukan modalmu yang mengundang Allah untuk menghadiahkan kepadamu dengan kemuliaan dan kelimpahan;

tetapi

kesungguhanmu untuk menatapkan sikapmu ke arah-arah kebaikan,
kesungguhanmu untuk mencemerlangkan pikiranmu untuk menemukan pintu-pintu kebaikan,
dan kesungguhanmu untuk menetapkan tindakanmu di jalan-jalan kebaikan.

Tidakkah engkau memikirkan,
bahwa
Jalan-jalan kebaikan adalah jalan Allah.
Dan bila engkau berjalan di jalan kebaikan,
engkau berjalan bersama Allah.
Maka, berketetapanlah setelah engkau memutuskan untuk bersikap baik, berpikiran baik, dan untuk bertindak yang baik;
lalu,
Setialah kepada yang benar,

karena
Apa pun yang dimulai dengan keburukan,
akan diperbaiki dengan kesulitan.
Allah Yang Maha Memelihara tidak akan membiarkan kita berlaku salah tanpa diingatkan bahwa kita perlu memperbaiki diri.

Kesulitan yang dihadiahkan kepada pribadi yang baik – sebagai cara untuk lebih memuliakannya; juga dihadiahkan kepada pribadi yang sedang salah – sebagai cara untuk membuatnya membenci keburukan dan merindukan kedamaian dari berlaku dalam kebaikan.

Lalu, dengan pengertian ini – apakah engkau masih membenci kesulitan?

Apakah engkau masih merasa pantas untuk mengeluh?

Sekarang, tersenyumlah…

Bukankah pengertian ini semakin memperdalam cinta kita kepada Allah?

Bukankah sekarang – lebih mudah bagimu untuk bersabar?

Sudah jelaskah bagimu sekarang, bahwa kesabaran itu bukanlah sifat, tetapi akibat?

Bila engkau mengerti, engkau akan bersabar.
Bila engkau bersabar, engkau akan dikasihi Allah;
karena kesabaranmu datang dari pengertianmu,
dan pengertianmu datang dari keberserahanmu kepada Allah.

Selasa, 20 September 2011

keindahan al-qur'an

Pesona dan keindahan AlQur’an
Adalah Nur dan kehidupan setiap Muslim,
Rembulan mungkin kecintaan lainnya
Bagi kami yang terkasih Al-Qur’an semata.

Telah kucari ke berbagai penjuru
Tak bersua sama sekali tandingannya,
Bagaimana tidak ada padanannya
Ia adalah Kalam Suci Tuhan yang Maha Kaya.


Setiap kata di dalamnya berisi kehidupan
Dan sumber mata air tak berkesudahan,
Tak ada kebun yang demikian indah
Tidak juga taman serupanya.


Kalam Allah yang Maha Pengasih
Tak ada bandingannya,
Meski mutiara dari Oman
Atau pun mirah dari Badakshan.

Gimana mungkin kata manusia
Bisa mengimbangi Kalam Ilahi?
Di sini kekuatan samawi, di sana tanpa daya,
Bedanya demikian nyata.

Dalam pengetahuan dan kefasihan
Gimana mungkin manusia mengimbangi-Nya?
Padahal para malaikat pun
Tak berdaya di hadirat-Nya.

Bahkan kaki serangga kecil pun
Tak mampu manusia mencipta,
Gimana mungkin baginya
Mencipta Nur sang Maha Perkasa?

Wahai manusia, perhatikanlah
Keagungan Tuhan yang Maha Akbar
Kendalikan lidah kalian
Jika ada sedikit saja keimanan kalian.

Menganggap ada yang sama dengan Tuhan
Adalah kekafiran pada puncaknya,
Takutlah kepada Tuhan, wahai sayangku
Betapa dusta dan fitnah hal ini.

Jika kalian menerima Ketauhidan Ilahi
Mengapa hati kalian berisi penuh berhala?

Tabir kegelapan apa yang telah menyelimuti hati kalian.
Sesungguhnya kalian telah berdosa
Bertaubatlah, jika kalian takut kepada Allah.

Aku tidak mengharapkan buruk bagi kalian, saudaraku
Ini hanyalah nasihat sederhana
Hati dan jiwaku adalah persembahan bagi
Siapa pun yang berhati mulia.
(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 198-204, London, 1984).

* * *

Nur dari Al-Furqan
Adalah yang paling cemerlang dari semua sinar,
Maha Suci Dia yang dari-Nya
Mengalir sungai nur ruhani.

Pohon keimanan dalam Ketauhidan Ilahi
Sudah hampir meranggas kering
Ketika tiba mata air murni ini
Muncul dari ketiadaan.

Ya Allah, Furqan-Mu sendiri adalah alam hakiki
Yang berisi segala yang dibutuhkan makhluk ini.

Telah kucari ke seluruh dunia,
Telah kutelusuri semua tempat niaga
Yang kutemukan adalah piala satu ini
Berisi ilmu hakiki sang Ilahi.

Tak ada padanan Nur ini
Di segenap penjuru bumi
Fitratnya unik dalam segala hal
Tanpa tanding di segala bidang.

Semula kukira bahwa Furqan serupa dengan tongkat Musa,
Setelah kurenungi mendalam nyatanya
Setiap katanya adalah al-Masih.

Jika buta mata mereka
Itu kesalahan mereka sendiri,
Padahal Nur ini telah bersinar
Seterang seratus mentari.

Betapa menyedihkan kehidupan
Umat manusia di dunia,
Yang hatinya tetap membuta
Meski tersedia Nur hakiki ini.

Menjaga Kemaluan

Diriwayatkan dari Sulaiman bin Yassar bahwa dia pernah keluar dari Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Dia pergi bersama seorang temannya. Mereka berdua singgah di sebuah tempat yang bernama Abwa`. (Sebuah tempat yang berada di dekat Madinah) Sesaat setelah singgah di sana, sang teman pergi ke pasar untuk membeli sesuatu, sementara Sulaiman tinggal seorang diri di dalam tenda. Sulaiman termasuk orang yang berparas paling tampan dan menarik. Tiba-tiba ada seorang wanita badui yang melihatnya dari puncak bukit. Wanita itu pun turun untuk menghampiri Sulaiman hingga akhirnya dia berdiri di hadapan Sulaiman. Dia memakai kain penutup wajah, tetapi (sesampainya di hadapan Sulaiman) dia pun membuka penutup wajahnya itu, dan ternyata wajahnya itu seperti belahan bulan.

Dia berkata: ‘Senangkanlah hatiku!’ Sulaiman mengira bahwa wanita itu menginginkan makanan, maka dia pun segera mengambil makanan sisa bekal perjalanan dengan maksud untuk diberikan kepada wanita itu. Tetapi wanita itu justru berkata: “Aku tidak menginginkan makanan ini, tetapi aku menginginkan apa yang biasa dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap isterinya (maksudnya, berhubungan badan).” Sulaiman pun berkata kepadanya: “Semoga Allah menjadikanmu bodoh!” Kemudian Sulaiman meletakkan kepalanya di antara kedua lututnya, lalu dia pun menangis tersedu-sedu. Tak henti-hentinya dia menangis, hingga ketika wanita itu melihat hal tersebut, dia pun segera memakai kembali penutup wajahnya, dan setelah itu dia pergi hingga dia sampai di rumah keluarganya.

Tidak lama kemudian, teman Sulaiman datang. Dia melihat Sulaiman sedang menangis, maka dia pun menanyakan kepada Sulaiman apa yang membuatnya menangis. Sulaiman memberitahukan kepada temannya itu kabar (berita) tentang wanita badui tadi. Mendengar penjelasan Sulaiman, sang teman langsung duduk, lalu dia menangis dengan suara yang sangat keras. Sulaiman bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Sulaiman menjawab: “Sungguh aku lebih pantas untuk menangis daripada kamu, karena aku khawatir bila aku berada pada posisimu niscaya aku tidak akan kuat untuk menghadapi godaan seperti itu.”

Sesampainya Sulaiman di Mekkah, dia segera menunaikan ibadah Sa’i dan Thawaf. Kemudian dia mendatangi Hijir Ismail. Di sana, kedua matanya terasa mengantuk hingga akhirnya dia pun tertidur. Dalam tidurnya itu, dia bermimpi melihat seorang laki-laki yang sangat tampan dan berbau wangi. Sulaiman pun bertanya kepadanya: “Siapakah kamu?” Laki-laki itu menjawab: “Aku adalah Yusuf.” Sulaiman bertanya: “Apakah maksudnya Yusuf Ash-Shiddiq (Nabi Yusuf)?” Laki-laki itu menjawab: “Ya.” Sulaiman berkata: “Sungguh apa yang telah engkau lakukan ketika menghadapi isteri Al-Aziz, Zulaikha, begitu menakjubkan!” Nabi Yusuf as. pun berkata kepada Sulaiman: “Sungguh apa yang kamu lakukan ketika menghadapi wanita badui itu lebih menakjubkan!”

Kemuliaan Seorang Wanita

Di antara kisah menarik tentang kemuliaan wanita adalah seperti yang diceritakan oleh Al-‘Atabi, yaitu bahwa dia pernah berjalan kaki menyelusuri jalan-jalan yang ada di Bashrah. Tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang termasuk wanita yang paling cantik dan manis, sedang bercanda dengan seorang laki-laki tua yang buruk rupa. Setiap kali wanita itu berbicara kepada laki-laki tersebut, dia pun tertawa di hadapan wajahnya.

Al-‘Atabi menceritakan: “Aku pun berusaha untuk mendekati wanita itu, lalu aku bertanya kepadanya: ‘Apa status laki-laki ini bagimu?’

Dia menjawab: ‘Dia adalah suamiku.’

Aku pun bertanya lagi: ‘Bagaimana mungkin kamu bisa bersabar dalam menghadapi keburukan rupa laki-laki ini, padahal kamu adalah wanita yang sangat cantik? Sungguh ini benar-benar menakjubkan!!’

Dia berkata: ‘Wahai Saudaraku, aku berharap barangkali ketika laki-laki itu dikaruniai diriku, dia pun bersyukur. Sebaliknya, ketika aku dikaruniai dirinya, aku pun bersabar. Orang yang bersabar dan orang yang bersyukur adalah termasuk penghuni surga. Bukankah dengan demikian, berarti aku telah ridha terhadap apa yang telah ditetapkan Allah untukku?’

Sungguh jawaban wanita itu membuatku tak berkutik, karena itu aku pun pergi dan meninggalkannya.” (Tuhfah Al-‘Aruus, hal. 147.)